Mondelēz lewat brand Chips Ahoy rilis strategi marketing buat Gen Z selama Piala Dunia. Simak gimana mereka manfaatkan 'mini Super Bowl moments' buat engage audience muda.
Piala Dunia itu bukan cuma soal bola. Buat marketer, ini ajang besar buat dapetin attention audience—terutama Gen Z yang susah dijaring.
Mondelēz ngerti ini banget. Lewat brand Chips Ahoy, mereka luncurin campaign yang fokus ke 'mini Super Bowl moments'. Apa itu? Momen-momen kecil selama turnamen yang bisa jadi viral dan bikin orang ngobrol.
Tim marketing mereka lihat ada gap yang menarik. Gen Z emang nonton pertandingan, tapi engagement-nya beda sama generasi sebelumnya. Mereka multitasking, scroll TikTok sambil nonton, dan expect interaksi dua arah.
Nah, Chips Ahoy jawab ini dengan tiga pilar utama. Pertama, partnership dengan soccer stars yang punya follower besar di social media. Kedua, limited-time offers yang bikin urgency. Ketiga, sweepstakes yang ngajak audience ikutan aktif.
Pemain bola yang dipilih bukan yang paling mainstream. Mereka cari yang punya authentic connection sama komunitas fans—yang bisa bikin konten yang berasa personal, bukan sekadar iklan.
Limited-time offers ini juga dirancang buat social sharing. Packaging khusus, rasa baru, atau bundle deal yang worth it buat difoto dan di-post. Gen Z suka yang eksklusif dan bisa jadi conversation starter.
Sweepstakes-nya sendiri simple tapi engaging. Kamu ikut, share, tag temen, dan bisa menang pengalaman unik—bukan cuma produk. Experience-based reward itu jauh lebih appealing buat Gen Z daripada hadiah material doang.
Yang menarik dari strategi ini adalah timing. Mereka nggak cuma fokus final atau match besar. Setiap gol, save, atau kontroversi kecil bisa jadi trigger buat real-time marketing. Makanya disebut 'mini moments'.
Ini beda sama pendekatan traditional yang andalkan satu big splash ad. Sekarang, consistency dan relevance di micro-moments itu lebih penting. Kamu harus selalu 'on' dan siap respon cepat.
Buat marketer lain yang mau replicate, ada beberapa takeaway praktis. Pertama, paham dulu behavior platform-specific audience kamu. Gen Z di TikTok beda sama yang di Instagram atau Twitter.
Kedua, jangan takut experiment dengan format konten. Short-form video, AR filter, atau bahkan audio trend bisa jadi entry point yang lebih efektif daripada display ad biasa.
Ketiga, partnership dengan creator atau influencer harus genuine. Jangan cuma bayar endorse—collab yang berasa natural dan aligned sama brand values kamu.
Keempat, buat sistem yang bisa respon cepat. Social listening tools itu investasi, bukan cost. Kamu perlu tim yang bisa pivot dalam jam, bukan hari.
Terakhir, ukur success-nya dengan metric yang relevan. Engagement rate, share of voice, dan sentiment analysis lebih penting daripada reach doang. Gen Z yang engage autentically itu lebih valuable daripada jutaan impression yang passive.
Piala Dunia coba datang tiap empat tahun, tapi pola konsumsi media berubah terus. Strategi Chips Ahoy ini nunjukin kalau adaptasi itu kunci—dan yang bisa baca shift behavior audience dengan cepat bakal menang.
Business: Marketing Tips lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
Marketing Dive
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Business: Marketing Tips update dari Marketing Dive.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Marketing Dive.
Baca artikel asli di Marketing Dive→


