Michelle Kim berbagi tiga hal yang lagi dia suka: Isegye Idol, dokumenter Mr. Nobody Against Putin, dan stand-up comedy James Acaster.
Pernah denger soal idol virtual? Bayangin aja: ada orang nyata di balik layar, tapi yang kamu lihat cuma karakter anime yang gerak pakai motion capture.
Michelle Kim lagi obses sama satu girl group bernama Isegye Idol. Mereka diciptakan oleh Woowakgood, seorang VTuber Korea yang juga perform pakai persona digital.
Enam member Isegye Idol ini anonimus banget. Nggak ada yang tahu siapa mereka di dunia nyata. Justru itu yang bikin mereka bisa jujur dan lucu dengan cara yang jarang kamu temuin di entertainment Korea.
Mereka main game kayak League of Legends, Go, sama Minecraft. Ngobrol santai. Terus nyanyiin musik yang campur-campur antara soundtrack anime sama score video game.
Vibes-nya very DIY dan intim banget. Popularitas mereka yang meledak ini nunjukin sesuatu: banyak Gen Z Korea yang kesepian, bingung arah hidup, susah cari kerja, sampai nyerah pacaran. Mereka nyari teman online.
Isegye Idol itu bukti kalau orang bisa bangun dunia online yang ajaib banget ketika realitasnya lagi nggak berfungsi.
Rekomendasi kedua: dokumenter Mr. Nobody Against Putin. Ceritanya tentang Pavel Talankin, guru sekolah di kota Karabash, Rusia. UNESCO pernah bilang tempat itu paling beracun di bumi.
Talankin syuting kehidupan sehari-harinya, sebagian rahasia. Dia sayang banget sama kotanya: cerobong asap, dinginnya, kumis es yang nempel pas jalan luar. Tapi yang paling dia cintai? Murid-muridnya yang berbinar-binar.
Nah, perang yang jauh dan propaganda negara mulai mengubah segalanya. Talankin ini anti-perang, progresif, bendera demokrasi ada di kelasnya. Dia harus hadapi kurikulum patriotik baru, parade wajib, kunjungan tentara bayaran.
Yang paling sakit? Kehilangan ruang kreatif yang dia bangun bareng murid-muridnya. Dokumenter ini menang Oscar, disutradarai David Borenstein.
Yang bikin mikir: seberapa besar pengaruh kita sebagai orang dewasa ke anak-anak? Kadang kita bentuk mereka dalam cara yang nggak kita sadari.
Terakhir: stand-up comedy James Acaster. Michelle ini tipe orang yang rela bayar $150 buat nonton komedian di teater bau San Francisco, plus $20 untuk kaleng air. Gila? Mungkin. Tapi dia masih berharap stand-up nggak mati.
Februari lalu dia nonton James Acaster live. Hasilnya? Cuma mediocre. Tapi Repertoire, serial mini 2018 di Netflix, itu emas murni.
Acaster syuting ini pas lagi fresh dari putus cinta. Empat episode, dia perankan berbagai karakter. Salah satunya polisi yang undercover jadi komedian stand-up, lupa identitas aslinya, terus cerai.
Terus makin aneh aja. Ada satu line yang nancep: "Gimana kalau setiap hubungan yang pernah kamu jalani itu sebenarnya orang lain yang perlahan sadar kalau mereka nggak sesuka itu sama kamu?"
Kalau komedi terbaik memang datang dari perhatian ke lubang neraka tempat kita berdiri, Michelle doain Acaster banyak jatuh lagi ke lubang-lubang baru.
Praktisnya? Tiga hal ini nunjukin pola yang sama: cara orang cari makna ketika dunia nyata lagi nggak kasih apa yang mereka butuhkan. Entah lewat komunitas virtual, dokumenter yang jujur, atau komedi yang nyelekitin luka.
Coba deh eksplor salah satu. Siapa tahu kamu juga nemu tempat yang pas buat kamu berlabuh.
Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
MIT Technology Review
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Technology update dari MIT Technology Review.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.
Baca artikel asli di MIT Technology Review→


