Also, startup sepeda listrik baru, menghapus koneksi mekanis antara pedal dan roda. Tenaga dari penge-pedalan diubah jadi listrik, lalu software atur pengalaman bersepedamu.

Dulu, bersepeda itu simpel. Kamu injak pedal, rantai berputar, roda belakang muter. Hubungannya langsung, mekanis, nggak ada yang nyelip di antaranya.

Tapi e-bike mulai ngaburin garis itu. Ada throttle, jadi kamu bisa males-malesan nge-pedal. Ada mid-drive motor, tenaga kakimu dicampur sama tenaga motor lewat gir yang rumit. Rasanya? Udah nggak kayak sepeda biasa lagi.

Nah, startup Also mau ngilangin hubungan itu sama sekali. Di sepeda mereka, kamu nge-pedal cuma buat nyalain generator. Tenaga yang kamu hasilin—ditambah baterai kalau perlu—dikirim ke motor yang baru muterin roda.

Advertisement

Jadi nggak ada rantai, nggak ada gir, nggak ada hubungan fisik antara kakimu sama roda belakang. Semuanya lewat kabel dan software.

Yang menarik: software-lah yang nentuin gimana rasanya bersepeda. Mau kerasa kayak nge-push sepeda berat? Bisa. Mau kerasa enteng banget kayak angin? Bisa juga.

Also bilang, sebagian besar waktu kamu bakal lupa kalau ini sepeda aneh. Rasanya kayak sepeda normal aja. Tapi kalau beda, itu karena software-nya sengaja bikin pengalaman yang lebih baik.

Bayangin: lagi nanjak, software bisa otomatis nambahin 'bantuan' tanpa kamu pencet tombol apa-apa. Atau lagi di jalan datar, bisa dibikin kerasa kayak resistance training. Semua tanpa ganti gear fisik.

Ini namanya drive-by-wire, konsep yang udah umum di mobil listrik dan pesawat. Tapi di sepeda? Baru kali ini ada yang nyoba serius.

Tentu ada yang skeptis. Beberapa pesepeda puris bakal bilang ini kehilangan 'feel' autentik. Mereka suka feedback langsung dari jalan, rasanya tanah atau aspal lewat pedal.

Tapi Also nganggep itu bukan bug, tapi feature. Dengan putusin koneksi mekanis, mereka bebas desain pengalaman apa pun. Mau simulasikan sepeda road bike? Sepeda gunung? Bahkan sepeda dengan karakter yang fisiknya mustahil dibikin? Bisa.

Dari sisi engineering, ini juga ngelepasin banyak constraint. Frame bisa lebih fleksibel, posisi motor lebih bebas, maintenance potentially lebih gampang karena nggak ada rantai yang kotor atau putus.

Yang jadi pertanyaan besar: apakah software-nya bakal cukup canggih? Latency harus rendah banget. Kalau kamu nge-push pedal dan roda ngerespons telat sedetik aja, rasanya bakal aneh, kayak sepeda rusak.

Also belum rilis detail spesifikasi atau harga. Tapi konsepnya udah cukup bikin penasaran. Ini bisa jadi arah baru buat industri e-bike yang lagi booming.

Praktisnya buat kamu: kalau ini sukses, pilihan sepeda listrik bakal makin beragam. Bukan cuma pilih motor gede atau kecil, tapi pilih 'personality' bersepeda yang kamu mau hari itu. Commute santai? Training intens? Tinggal ubah mode di app.

Yang pasti, garis antara 'sepeda' dan 'kendaraan listrik dengan input kaki' makin tipis. Dan Also mau tarik garis itu sampai putus total.

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

Ars Technica

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari Ars Technica.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Ars Technica.

Baca artikel asli di Ars Technica
#Technology#ArsTechnica#rss