Startup fintech Slash yang didirikan remaja berhasil mengumpulkan $100 juta dengan valuasi $1,4 miliar. Simak kisah perjalanan dan strategi bisnisnya.
Bayangin ya, kamu baru lulus SMA terus langsung bikin startup. Lima tahun kemudian, valuasinya tembus Rp23 triliun.
Itu yang dialami pendiri Slash, startup fintech yang sekarang jadi pesaing berat Ramp di pasar corporate card.
Keduanya baru berusia 24 tahun sekarang. Tapi jangan salah, pendapatan tahunan mereka sudah mencapai $300 juta atau sekitar Rp4,8 triliun.
Slash baru aja mengumumkan pendanaan Series C sebesar $100 juta. Valuasinya melonjak jadi $1,4 miliar.
Angka itu bikin Slash masuk ke klub unicorn yang langka. Apalagi di tengah kondisi pasar venture capital yang lagi ketat banget.
Startup ini fokus ngasih solusi kartu korporat dan expense management. Targetnya bisnis-bisnis yang pengin kontrol pengeluaran lebih ketat.
Bedanya sama bank tradisional? Slash ngasih real-time visibility ke setiap transaksi. Kamu bisa lihat langsung siapa yang belanja apa dan kapan.
Fitur automation-nya juga bikin tim finance nggak perlu repot-repot ngurus reimbursement manual. Semuanya jalan otomatis.
Dari sisi bisnis model, Slash dapet revenue dari interchange fee. Setiap kali kartu dipakai, mereka dapet persentase kecil.
Skalanya gede banget karena corporate spending volume-nya memang monster. Beda sama consumer card yang transaksinya lebih kecil-kecil.
Yang menarik, Slash berhasil tumbuh pesat meski Ramp udah lebih dulu ada dan lebih besar. Ini nunjukin pasarnya memang masih room for growth.
Strategi mereka agresif di sales dan product differentiation. Mereka target mid-market companies yang mungkin ngerasa Ramp terlalu enterprise.
Untuk kamu yang ngikutin scene startup, ini kasus klasik execution beats timing. Mereka masuk pasar yang sama tapi dengan angle berbeda.
Pendanaan kali ini dipimpin oleh investor tier-1, meski namanya nggak disebut detail. Yang jelas, investor percaya sama momentum Slash.
Di tengah rumor banyak startup fintech yang struggling, Slash malah nunjukkin growth yang solid. Ini good signal buat sektor ini.
Valuasi $1,4 miliar dengan revenue $300 juta artinya revenue multiple sekitar 4,7x. Itu masih reasonable untuk fintech yang profitable growth.
Bandingin sama beberapa startup yang valuasinya aneh-aneh tanpa revenue, Slash ini lebih grounded dari sisi metrics.
Founders-nya sendiri nggak banyak bicara di media. Mereka lebih fokus build product dan scale tim.
Culture startup yang masih founder-led ini kelihatan dari kecepatan mereka rilis fitur baru. Nggak ada bureaucracy yang berbelit.
Buat kamu yang founder muda, ini proof point bahwa age is just number. Yang penting problem-solving dan execution.
Tapi inget juga, mereka mulai dari umur 19. Artinya ada 5 tahun learning dan iteration sebelum sampai titik ini.
Instant success itu mitos. Yang ada adalah compound effort dalam waktu lama.
Takeaway praktisnya: corporate fintech masih hot, tapi butuh differentiation yang jelas. Jangan cuma copycat.
Kalau kamu bikin sesuatu di space yang sama, pikirin dulu angle unik apa yang bisa kamu bawa. Apakah itu pricing, fitur, atau target segment?
Slash berhasil karena mereka nggak cuma duplicate Ramp. Mereka build dengan asumsi dan insight yang berbeda.
Itu yang bikin investor mau masuk meski market udah ada incumbent besar.
So, worth watching nih startup. Mereka masih early di journey panjang fintech evolution.
Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
TechCrunch
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Technology update dari TechCrunch.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan TechCrunch.
Baca artikel asli di TechCrunch→


