Kenapa penggunaan bitcoin untuk pembayaran sehari-hari jadi ribet karena perlakuan pajak sebagai capital asset, dan apa solusinya menurut para ahli.

Bayangin kamu beli kopi pagi pakai bitcoin. Transaksinya cuma beberapa detik, scan QR code, done. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada masalah besar yang jarang orang sadari: pajak.

Di banyak negara, bitcoin diperlakukan sebagai capital asset, bukan mata uang. Artinya setiap kali kamu pakai bitcoin buat beli sesuatu — bahkan kopi seharga Rp50 ribu — itu dianggap sebagai penjualan aset.

Dan setiap penjualan aset harus dilaporkan. Harus dihitung gain atau loss-nya. Harus dicatat harga beli bitcoin kamu waktu itu berapa, harga pasar pas beli kopi berapa. Bayangin kalau kamu beli kopi tiap hari. Itu 365 transaksi yang harus dilaporin dalam setahun.

Advertisement

Libertarian think tank Coin Center pernah angkat isu ini. Menurut mereka, perlakuan pajak yang sekarang bikin bitcoin nggak praktis buat pembayaran sehari-hari. Padahal teknologinya siap, infrastrukturnya ada. Yang nggak siap justru regulasinya.

Masalahnya, capital asset treatment ini bikin friction yang nggak perlu. Orang jadi mikir dua kali mau pakai bitcoin buat belanja. Mending hold aja, nunggu harga naik. Padahal salah satu potensi besar bitcoin adalah sebagai medium of exchange, bukan cuma store of value.

Ada yang bilang, ya udah, pakai stablecoin aja. Tapi stablecoin juga belum tentu bebas masalah pajak, tergantung regulasi masing-masing negara. Dan stablecoin bukan solusi buat yang memang mau pakai bitcoin secara native.

Di AS misalnya, IRS jelas-jelas bilang bitcoin adalah property. Setiap disposal — termasuk buat beli barang — trigger capital gains tax. Nggak ada de minimis exemption kayak di beberapa negara lain. Di Swiss atau Jerman, ada aturan lebih fleksibel buat small transactions.

Tapi buat pengguna di AS, pilihannya cuma tiga: taat lapor semua transaksi (ribet), pakai software tracking otomatis (bayar), atau ignore dan berharap nggak ketahuan (berisiko). Nggak ada yang ideal.

Solusi yang diusul Coin Center? Perlakukan bitcoin sebagai currency buat transaksi kecil. Atau minimal, kasih threshold tertentu yang nggak perlu dilaporin. Mirip kayak cara perlakuan foreign currency di beberapa yurisdiksi.

Ini bukan cuma soal kemudahan. Ini soal adoption. Kalau regulasi bikin penggunaan sehari-hari jadi terlalu mahal secara administratif, bitcoin akan tetap jadi aset spekulatif. Padahal visi awalnya adalah peer-to-peer electronic cash system.

Praktisnya, kalau kamu memang mau pakai bitcoin buat belanja sehari-hari, ada beberapa cara mengurangi beban. Pertama, pakai wallet yang punya fitur transaction labeling dan export. Kedua, pertimbangkan pakai L2 solution kayak Lightning Network yang biayanya lebih kecil dan lebih private.

Ketiga, catat semua transaksi sejak awal. Jangan nunggu akhir tahun. Pake spreadsheet atau software khusu kayak Koinly, CoinTracker, atau yang lokal. Investasi waktu di depan bakal selamatkan kamu dari stres dan denda di belakang.

Yang paling penting: paham regulasi di negara kamu. Jangan asumsi aturan di Twitter atau forum berlaku universal. Tax treatment bitcoin beda-beda tiap negara, dan bisa berubah.

Takeaway praktisnya: bitcoin memang bisa dipakai buat beli kopi. Tapi sebelum mulai, pastikan kamu punya sistem tracking yang kuat. Atau, kalau mau lebih simpel, pakai bitcoin cuma buat saving dan investment dulu. Tunggu sampai regulasi lebih ramah buat everyday payments.

Perubahan regulasi butuh waktu dan advokasi. Sementara itu, sebagai pengguna, yang bisa kamu lakuin adalah informed compliance. Taat aturan, tapi juga paham kenapa aturan itu ada dan apa yang bisa diusulkan buat jadi lebih baik.

Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

CoinDesk

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Crypto update dari CoinDesk.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinDesk.

Baca artikel asli di CoinDesk
#Crypto#CoinDesk#rss