Microsoft pause pembelian carbon removal yang selama ini mendominasi pasar. Bagaimana nasib industri teknologi penyerapan karbon tanpa pembeli terbesarnya?

Minggu lalu, kabar mengejutkan muncul dari Microsoft. Perusahaan raksasa teknologi itu dikabarkan sedang menghentikan sementara pembelian carbon removal.

Ini bukan berita biasa. Soalnya, Microsoft itu praktis adalah pasar carbon removal. Mereka sendirian sudah beli sekitar 80% dari semua kontrak carbon removal yang ada di dunia.

Kalau kamu punya teknologi yang bisa menyedot CO₂ dari atmosfer dan cari pembeli, Microsoft itu target utama kamu. Jadi keputusan ini bikin banyak orang di industri ini khawatir.

Advertisement

Carbon removal itu apa sih? Intinya, teknologi yang mengambil karbon dioksida dari udara dan menyimpannya secara permanen.

Ada berbagai metode. Yang paling dikenal adalah direct air capture atau DAC, pabrik yang pakai bahan kimia khusus buat nangkep CO₂ dari udara.

Ada juga BECCS, singkatan dari bioenergy with carbon capture and storage. Di sini, biomassa seperti kayu atau bahan bakar dari limbah dibakar untuk energi, lalu gas rumah kaca yang keluar ditangkap.

Minat ke teknologi ini meledak di awal dekade ini. Laporan PBB 2022 bilang negara-negara mungkin perlu hapus 11 miliar ton CO₂ per tahun pada 2050 supaya pemanasan global nggak lewat dari 2°C.

Tapi ada masalah besar: ekonominya susah. Manfaatnya itu publik—udara bersih buat semua orang. Tapi siapa yang mau bayar?

Selama ini jawabannya adalah Microsoft. Perusahaan ini pembeli terbesar dan satu-satunya yang beli dalam skala megaton, kata Robert Höglund dari CDR.fyi.

Microsoft memang punya target ambisius: carbon-negative pada 2030 dan hapus semua emisi historis mereka pada 2050.

Tapi realitanya berbeda. Di laporan sustainability terbaru Juni 2025, emisi Microsoft justru naik 23,4% sejak 2020.

Lalu muncul laporan Heatmap News 10 April: staf Microsoft bilang ke supplier kalau pembelian carbon removal di-pause. Bloomberg konfirmasi sehari setelahnya.

Satu sumber bilang keputusan ini terkait pertimbangan finansial. Microsoft sih bilang nggak permanen nutup programnya, cuma "adjust pace".

Tapi cara pengumumannya bikin industri geger. Wil Burns dari American University bilang ini "extremely irresponsible".

Mayoritas perusahaan carbon removal memang cari kontrak ke Microsoft. Jadi keputusan ini, meski hak Microsoft, dampaknya besar banget.

Situasinya makin rumit karena pemerintahan AS baru-baru ini potong funding dan ubah kebijakan di EPA yang berkaitan dengan karbon.

Kalau pause Microsoft berkepanjangan, industri ini mungkin harus survive dari pembelian kecil-kecilan dan harap bantuan pemerintah atau filantropi.

Tapi buat skala besar, yang dibutuhkan adalah kebijakan. Pemerintah harus bikin aturan yang wajibkan perusahaan penghasil emisi tanggung jawab atas karbon mereka.

Mungkin ada sisi positifnya. Microsoft kasih wake-up call: kamu nggak bisa andalkan kebaikan perusahaan swasta buat bikin carbon removal berkembang.

Takeaway praktis: Kalau kamu tertarik iklim atau kerja di sustainability, pahami bahwa carbon removal masih pasar yang rapuh dan bergantung pada kebijakan. Jangan cuma lihat komitmen perusahaan, tapi juga track record eksekusi mereka. Dan buat yang bikin kebijakan, saatnya bikin regulasi yang kuat, bukan cuma harap voluntary action dari tech giants.

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

MIT Technology Review

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari MIT Technology Review.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.

Baca artikel asli di MIT Technology Review
#Technology#MITTechnologyReview#rss