Iklan di ChatGPT dan platform LLM lainnya menawarkan peluang baru, tapi advertiser masih bingung gimana cara evaluate dengan benar. Simak insight praktisnya.
Iklan di platform AI kayak ChatGPT mulai jadi perbincangan hangat di kalangan marketer. Tapi pertanyaan besarnya: bisa nggak sih kita evaluate iklan-iklan ini dengan standar yang sama kayak channel lain di media plan?
Brian Quinn dari AppsFlyer ngebahas ini dengan cukup tajam. Menurut dia, masih banyak gray area soal measurement dan attribution untuk iklan-iklan di large language model (LLM).
Sekarang bayangin aja. Kamu udah nyaman banget sama framework measurement untuk Meta Ads, Google Ads, sama TikTok. Semuanya punya standardized metrics, clear attribution window, sama benchmarking yang jelas.
Terus tiba-tiba muncul format baru di ChatGPT. User nanya sesuatu, terus muncul sponsored response atau recommended product. Gimana cara track conversion-nya? Apakah user yang beli itu beneran karena influence dari jawaban AI-nya, atau mereka udah punya intent sebelumnya?
Ini yang bikin banyak performance marketer ragu-ragu masukin LLM ads ke media mix mereka. Bukan karena nggak tertarik, tapi karena nggak yakin gimana cara prove ROI-nya dengan cara yang bisa di-defend ke boss atau client.
Quinn juga ngingetin soal data privacy constraints yang makin ketat. LLM platforms punya akses ke conversational data yang super rich, tapi mereka juga under pressure buat protect user privacy. Jadi targeting capabilities-nya mungkin nggak se-granular yang kamu expect.
Lalu ada masalah brand safety. Konteks di conversational AI itu dynamic banget. Iklan kamu bisa muncul di tengah diskusi yang nggak relevan atau bahkan kontraversial. Beda sama search ads yang relatively controlled, atau social ads yang bisa di-curate dengan baik.
Tapi jangan salah, opportunity-nya juga real. Engagement rate di platform LLM itu tinggi banget karena users actively seeking information. Intent-nya strong, dan kalau placement-nya tepat, conversion potential-nya besar.
Yang menarik, beberapa brand early adopter udah mulai eksperimen dengan sponsored content di AI platforms. Mereka fokus ke brand awareness dan consideration dulu, bukan langsung performance metrics. Strategi yang wise, sebenernya.
Soalnya kalau kamu langsung demand ROAS yang sama kayak mature channels, kamu bakal kecewa. LLM ads masih di fase learning, dan ecosystem-nya belum mature. Expectation harus di-set dengan realistis.
Practical takeaway buat kamu: kalau lagi explore LLM ads, treat mereka sebagai awareness dan consideration layer dulu. Jangan compare apple-to-orange dengan performance channels yang udah established.
Build custom measurement framework yang acknowledge unique characteristics dari conversational AI. Mungkin combine beberapa metrics: engagement dengan AI response, subsequent search behavior, sama assisted conversions di analytics kamu.
Juga penting buat maintain close relationship sama platform representatives. Mereka yang paling tahu product roadmap dan measurement tools yang lagi di-develop. Jadi kamu bisa prepare sebelum fitur-fitur baru launch.
Bottom line: LLM ads punya potensi jadi meaningful part of media mix, tapi nggak dalam waktu dekat. Butuh waktu buat measurement standards mature, dan butuh eksperimen dari advertiser buat figure out best practices.
Yang jelas, ignore this channel completely juga bukan pilihan yang wise. Start small, learn fast, dan adapt strategy kamu seiring ecosystem-nya evolve.
Business: Marketing Tips lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
Marketing Dive
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Business: Marketing Tips update dari Marketing Dive.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Marketing Dive.
Baca artikel asli di Marketing Dive→


