Adobe meluncurkan platform AI agentic CX Enterprise dengan dukungan tiga agency global terbesar. Pelajari bagaimana kolaborasi ini mengubah cara brand mengelola customer experience.
Adobe baru saja mengumumkan langkah besar dalam strategi AI mereka. Mereka meluncurkan platform baru bernama CX Enterprise yang fokus pada agentic AI.
Yang menarik, tiga agency global terbesar — Omnicom, Publicis, dan WPP — langsung bergabung. Mereka akan menggunakan platform ini sebagai standar untuk mengembangkan solusi bersama klien-klien mereka.
Jadi apa sih sebenarnya agentic AI ini? Singkatnya, ini adalah AI yang bisa bertindak secara mandiri, bukan cuma menunggu instruksi dari manusia.
Bedanya dengan AI generatif yang biasa kamu kenal? AI generatif butuh prompt terus-menerus. Agentic AI bisa membuat keputusan dan menjalankan tugas sendiri berdasarkan tujuan yang sudah ditentukan.
Platform CX Enterprise dari Adobe dirancang khusus untuk customer experience. Artinya, AI agent-nya bisa menangani interaksi pelanggan secara end-to-end tanpa intervensi manual yang berlebihan.
Kolaborasi dengan agency besar ini bukan sekadar marketing gimmick. Adobe butuh partner yang punya akses langsung ke brand Fortune 500 untuk menguji dan memperbaiki platform mereka.
Dari sisi agency, ini juga win-win. Mereka dapat akses ke teknologi AI terbaru tanpa harus membangun sendiri dari nol. Biaya R&D untuk AI agentic bisa mencapai ratusan juta dolar.
Publicis misalnya, sudah cukup agresif di AI dengan platform CoreAI mereka. Tapi bermitra dengan Adobe memungkinkan mereka mengintegrasikan kemampuan agentic ke dalam stack yang sudah ada.
Omnicom dan WPP punya pendekatan serupa. Mereka ingin tetap kompetitif tanpa harus jadi perusahaan teknologi murni. Partnership seperti ini menjembatani gap tersebut.
Yang jadi pertanyaan: kenapa Adobe yang dipilih, bukan Google, Microsoft, atau OpenAI? Jawabannya ada di ekosistem Creative Cloud dan Experience Cloud yang sudah familiar bagi marketer.
Adobe punya data asset kreatif dan behavioral yang terintegrasi. Ini keunggulan kompetitif yang sulit ditiru oleh pure-play AI companies.
Untuk praktisi marketing, ada takeaway praktis yang bisa kamu terapkan. Pertama, mulai pahami beda AI generatif dan agentic AI. Jangan sampai vendor menjual konsep yang berbeda dengan harga premium.
Kedua, evaluasi apakah workflow customer experience kamu sudah siap untuk otomasi level tinggi. Agentic AI paling efektif ketika prosesnya sudah terdefinisi dengan baik.
Ketiga, perhatikan bagaimana agency kamu (jika pakai) menyesuaikan strategi AI mereka. Partnership seperti ini menandakan industry sedang konsolidasi ke arah platform yang lebih terintegrasi.
Adobe sendiri menyebut ini sebagai "era baru" untuk customer experience. Tapi seperti biasa, teknologi baru hanya berhasil kalau implementasinya sesuai dengan kebutuhan bisnis yang konkret.
Yang pasti, persaingan di ruang AI enterprise makin ketat. Setiap vendor besar sekarang harus punya narrative agentic AI yang jelas, atau risiko tertinggal dari pesaing.
Business: Marketing Tips lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
Marketing Dive
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Business: Marketing Tips update dari Marketing Dive.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Marketing Dive.
Baca artikel asli di Marketing Dive→


