Agentic AI bakal jadi perubahan ketiga dalam software engineering. Pelajari bagaimana AI agents bisa mengelola seluruh lifecycle software development secara mandiri.

Dunia software engineering udah ngalamin dua gempa besar di abad ini. Yang pertama, munculnya open source yang bikin kode bisa diakses semua orang. Kedua, DevOps dan agile yang ubah cara kerja dari sendiri-sendiri jadi kolaboratif.

Sekarang, perubahan ketiga mulai terbentuk. Namanya agentic AI.

Sejauh ini, tim engineering pake AI buat bantu coding, testing, dan tugas-tugas individual. Tapi dengan kemampuan agentic, AI agents jadi entitas yang bisa mikir dan ngatur diri sendiri. Mereka bisa ngurusin bukan cuma tugas kecil, tapi seluruh proyek software secara mandiri.

Advertisement

Kalau tim engineering beneran adopsi dan manfaatin agentic AI, yang bakal terjadi adalah otomasi proses software dari ujung ke ujung. Bahkan, lifecycle development dan produk bisa dikelola sama agents.

Survei ke 300 eksekutif engineering dan teknologi nunjukkin tim-tim ini lagi lihat potensi agentic AI dan mulai pake, meski masih terbatas. Ambisi mereka tinggi, tapi sadar butuh waktu dan usaha buat ngurangin hambatan.

Sama kayak waktu adopsi DevOps dan agile, dapetin manfaat penuh dari agentic AI butuh perubahan organisasi dan proses yang kadang susah. Tapi keuntungan di kecepatan, efisiensi, dan kualitas bakal worth it.

Setengah organisasi udah anggap agentic AI sebagai prioritas investasi utama sekarang. Dua tahun lagi, angkanya bakal jadi lebih dari 80%.

Sekarang, 51% tim software udah pake agentic AI, meski kebanyakan masih terbatas. 45% lagi punya rencana adopsi dalam 12 bulan ke depan.

Perlu waktu buat investasi ini berbuah. Dua tahun ke depan, sebagian besar ekspektasinya peningkatan bakal ringan atau sedang. Tapi sepertiga punya ekspektasi lebih tinggi, dan 9% yakin bakal game changing.

Keuntungan utama dari agentic AI adalah kecepatan. Hampir semua responden, 98%, yakin pengiriman proyek dari pilot ke produksi bakal lebih cepat. Rata-rata peningkatan kecepatannya 37%.

Ambisi tim-tim ini tinggi. Kebanyakan pengen AI agents ngurusin product development lifecycle dan software development lifecycle dari awal sampai akhir. 41% organisasi targetin ini buat sebagian besar produk dalam 18 bulan. Dua tahun lagi, angkanya naik jadi 72%.

Tantangan awal yang paling besar adalah biaya computing dan integrasi sama aplikasi yang udah ada. Ini terutama dirasain di industri media, entertainment, dan hardware teknologi.

Para ahli yang diwawancara lebih ngarahin ke kesulitan change management. Tim-tim bakal susah ngubah workflow yang udah biasa.

Praktisnya, apa yang bisa kamu lakuin sekarang? Mulai eksplorasi agentic AI dengan ekspektasi realistis. Jangan harap langsung revolusioner, tapi siapin tim buat adaptasi bertahap.

Fokus ke integrasi sama sistem yang udah ada dan hitung-hitungan biaya infrastruktur. Yang paling penting, siapin tim buat belajar workflow baru. Teknologi cuma setengah perjalanan, setengahnya lagi adalah gimana orang-orang kerja bareng teknologi itu.

AI Updates lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

MIT Technology Review AI

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

AI Updates update dari MIT Technology Review AI.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review AI.

Baca artikel asli di MIT Technology Review AI
#AIUpdates#MITTechnologyReviewAI#rss