Desalinasi jadi penyelamat negara-negara krisis air di Timur Tengah. Tapi pertumbuhannya butuh investasi $25 miliar dan konsumsi listrik yang luar biasa.

Waktu pertama kali nyelami data soal teknologi desalinasi, saya langsung ketagihan ngulik angka-angkanya. Memang sih, desalinasi—proses ngilangin garam dari air laut jadi air tawar—udah lama jadi teknologi penting, apalagi di daerah yang kekurangan air kayak Timur Tengah. Tapi seberapa bergantungnya beberapa negara sama teknologi ini, dan seberapa besarnya bisnisnya, tetap aja bikin kaget.

Di Qatar, desalinasi menghasilkan 77% total air tawar dan 99% air minum. Bayangin, hampir semua yang diminum 3 juta orang di sana berasal dari laut yang 'dibersihin'.

Secara global, desalinasi cuma menyumbang 1% dari total pengambilan air tawar. Tapi buat negara-negara GCC (Bahrain, Qatar, Kuwait, UAE, Arab Saudi, dan Oman), ini urusan hidup mati. Nggak ada sungai permanen di Semenanjung Arab, jadi fasilitas desalinasi adalah satu-satunya jalan.

Advertisement

Timur Tengah cuma punya 6% populasi dunia, tapi menampung 27% fasilitas desalinasi global. Dari 17.910 pabrik desalinasi yang beroperasi di seluruh dunia, 4.897 ada di sini.

Studi di npj Clean Water 2026 nunjukin angka ini. Teknologi ini nggak cuma buat rumah tangga, tapi juga industri pertanian, manufaktur, dan makin banyak data center.

Pabrik desalinasi terbesar di Arab Saudi hasilkan 1 juta meter kubik air per hari. Ras Al-Khair di Provinsi Timur adalah salah satu dari banyak pabrik raksasa yang output-nya di atas sejuta meter kubik tiap hari.

Itu cukup buat jutaan orang di Riyadh. Tapi butuh listrik gila-gilaan—2,4 gigawatt dari pembangkit yang menempel.

Rata-rata ukuran pabrik desalinasi sekarang 10 kali lebih besar dari 15 tahun lalu. Data dari International Energy Agency nunjukin komunitas makin pilih pabrik besar karena lebih efisien.

Antara 2024 dan 2028, kapasitas desalinasi Timur Tengah bisa tumbuh 40% lebih. Investasi capex diproyeksi tembus $25 miliar.

Pabrik-pabrik baru bakal berdiri di Arab Saudi, Irak, dan Mesir. Pertumbuhan ini bakal 'haus' listrik dalam jumlah masif.

Desalinasi bisa nambah 190 terawatt-jam permintaan listrik global pada 2035. Itu setara kebutuhan 60 juta rumah tangga.

Transisi dari bahan bakar fosil ke listrik makin mendorong konsumsi energi. Jadi tantangannya bukan cuma produksi air, tapi juga sumber energinya.

Takeaway praktis: Buat kamu yang di Indonesia, mungkin desalinasi masih terdengar jauh. Tapi dengan perubahan iklim yang bikin pola hujan makin tidak menentu, teknologi ini bisa jadi opsi serius di masa depan. Yang penting diperhatiin: efisiensi energi. Karena tanpa renewable energy yang kuat, solusi air malah jadi masalah emisi baru.

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

MIT Technology Review

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari MIT Technology Review.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.

Baca artikel asli di MIT Technology Review
#Technology#MITTechnologyReview#rss