Penelitian baru mengungkap bahwa Yellowstone mungkin bukan disebabkan oleh mantle plume. Lempeng Farallon yang hilang justru bisa jadi penyebab aktivitas supervolcano ini.

Yellowstone itu fenomena yang bikin penasaran. Supervolcano yang letusannya bisa menutupi separuh Amerika Utara dengan abu. Selama ini ilmuwan yakin ada yang namanya mantle plume di baliknya.

Tapi penelitian baru baru ini ngegoyahin pemikiran itu. Mungkin, penyebabnya bukan mantle plume. Melainkan sejarah geologi yang sudah terkubur jutaan tahun lalu.

Kamu pernah denger soal lempeng Farallon?

Advertisement

Lempeng ini udah hampir lenyap total. Dulu, lempeng ini nabrak Amerika Utara dan bantu bentuk West Coast. California ada karena dia. Bahkan sisa-sisanya sekarang masih aktif di Cascades.

Yang menarik, lempeng yang sama ini mungkin masih 'beroperasi' jauh di dalam bumi. Jauh dari pantai, tepatnya di bawah Yellowstone.

Gimana caranya?

Bayangin lempeng raksasa yang tenggelam perlahan. Proses ini nyiptain tekanan dan stress di kerak bumi. Stress itu lalu membuka 'jalan' bagi magma buat naik ke permukaan.

Jadi Yellowstone mungkin bukan hot spot klasik yang didorong oleh mantle plume. Tapi lebih ke hasil dari pergerakan lempeng yang kompleks selama jutaan tahun.

Ini beda banget sama teori lama.

Dulu, ilmuwan mikir hot spot itu tempat di mana material dari dalam bumi naik ke permukaan. Biasanya di tengah lempeng, jauh dari batas-batasnya. Dan mantle plume dianggap sebagai penyebab utamanya.

Mantle plume itu semacam 'gumpalan' batu cair panas yang naik karena konveksi. Di banyak tempat, plume ini diam di tempat sementara lempeng-lempeng bergerak di atasnya. Hasilnya? Rantai pulau yang makin tua seiring kamu menjauh dari hot spot.

Hawaii contoh klasiknya.

Tapi Yellowstone beda. Lokasinya di dalam benua, bukan di tengah samudra. Dan jejak letusannya juga nggak sesederhana rantai pulau linear.

Penelitian baru ini ngasih perspektif alternatif. Mungkin Yellowstone itu unik karena memang terbentuk dengan cara berbeda. Bukan dari plume yang diam, tapi dari lempeng yang bergerak dan menghilang.

Ini penting buat pemahaman kita soal supervolcano.

Kalau teori ini bener, artinya prediksi letusan Yellowstone jadi lebih rumit. Kita nggak bisa cuma lihat mantle plume dan bikin perkiraan sederhana. Harus ngerti sejarah geologi yang lebih kompleks.

Buat kamu yang tinggal di Amerika Utara, ini bukan berarti panik. Yellowstone letus besar itu skala ribuan tahun. Tapi pemahaman yang lebih baik membantu ilmuwan mempersiapkan diri.

Yang menarik dari penelitian ini adalah cara pandang baru soal bumi kita.

Kita sering mikir geologi itu tentang proses yang berlangsung sekarang. Padahal, apa yang terjadi jutaan tahun lalu masih bisa berdampak hari ini. Lempeng yang hilang tetap 'hidup' dalam pengaruhnya.

Farallon itu contoh bagus. Lempeng yang hampir nggak ada jejaknya di permukaan, tapi masih memengaruhi apa yang terjadi di dalam bumi. Dan sekarang, mungkin juga memengaruhi salah satu sistem vulkanik paling terkenal di dunia.

Ini juga nunjukin gimana ilmu geologi terus berkembang.

Teori yang dianggap mapan bisa digoyahkan oleh data baru. Yellowstone sebagai hot spot klasik udah jadi pemahaman umum puluhan tahun. Tapi sekarang ada alternatif yang layak dipertimbangkan.

Proses ilmiah memang gitu. Hipotesis diuji, data dikumpulkan, dan pemahaman kita berubah. Nggak ada yang final dalam sains.

Jadi apa takeaway praktisnya buat kamu?

Pertama, bumi itu sistem yang terhubung. Apa yang terjadi di satu tempat bisa berdampak di tempat lain, bahkan jutaan tahun kemudian. Kedua, ilmu geologi itu dinamis. Pemahaman kita soal fenomena alam terus berkembang.

Dan ketiga, Yellowstone tetap fenomena yang pantau. Nggak perlu takut, tapi perlu dihargai sebagai pengingat kekuatan bumi kita.

Kalau penelitian ini terus dikembangkan, kita mungkin bakal ngerti lebih banyak soal supervolcano lain di dunia. Mereka juga mungkin punya sejarah unik yang menjelaskan keberadaannya.

Yang jelas, bumi masih punya banyak misteri. Dan kadang jawabannya ada di tempat yang nggak kita duga. Seperti lempeng yang udah hilang jutaan tahun lalu.

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

Ars Technica

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari Ars Technica.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Ars Technica.

Baca artikel asli di Ars Technica
#Technology#ArsTechnica#rss