Karyawan Palantir mulai bersuara tentang kekhawatiran moral mereka. Perusahaan yang dulu dianggap inovatif kini dianggap sebagai mesin deportasi imigran.
Beberapa bulan setelah Donald Trump menjabat lagi, suasana di Palantir mulai berubah drastis.
Karyawan mulai bertanya-tanya: apakah perusahaan ini masih peduli dengan kebebasan sipil?
Bukan lagi sekadar proyek yang "tidak populer" atau sulit. Ini terasa salah.
Musim gugur lalu, Palantir tiba-tiba jadi tulang punggung teknologi untuk penegakan imigrasi Trump.
Software mereka dipakai buat mengidentifikasi, melacak, sampai mendeportasi imigran.
Semua ini dilakukan atas nama Department of Homeland Security.
Dua mantan karyawan sempat teleponan waktu itu.
Begitu angkat telepon, yang satu langsung nanya: "Kamu lagi pantauin nggak sih Palantir menuju fasisme?"
Itu salam pembuka mereka. Biasa aja, kayak ngobrol cuaca.
Tapi di balik candaan itu, ada kekhawatiran yang serius banget.
Bukan cuma soal reputasi yang buruk. Ini soal moral.
Perasaan "ini salah" mulai nyebar di Slack perusahaan.
Karyawan aktif dan yang udah cabut mulai bunyi alarm.
Mereka lihat perusahaan yang dulu bangga soal "memperkuat demokrasi" kini jadi alat represi.
Ironisnya, Palantir dulu terkenal karena bantu intelijen AS ngejar teroris pasca 9/11.
Sekarang, teknologi yang sama dipakai buat targetin imigran biasa.
Bukan penjahat. Bukan ancaman keamanan nasional.
Orang-orang yang cuma cari kehidupan lebih baik.
Bagi banyak karyawan, ini garis merah yang ketebak.
Ada yang bilang, "Kita nggak sign up buat ini."
Tapi di startup tech, speak up itu berisiko.
Palantir punya culture yang kuat dan loyalitas yang dihargai tinggi.
Bertanya keras bisa berarti kena sideline atau dipecat.
Jadi banyak yang cuma bisa curhat di Slack channel privat.
Atau ngobrol sama rekan yang udah resign.
Beberapa yang berani speak up akhirnya memilih jalan keluar.
Mereka nggak bisa lagi justify kerja di sana.
Yang lain tetap, tapi dengan rasa bersalah yang makin besar.
Dilema ini sebenernya umum di tech industry.
Kamu bangun sesuatu yang keren, inovatif, powerful.
Tapi kamu nggak bisa kontrol gimana dipakainya nanti.
Palantir cuma contoh paling ekstrem aja.
Dari data analytics buat kesehatan, jadi alat deportasi massal.
Perjalanan yang cepet dan mengerikan.
Buat kamu yang kerja di tech, ini pelajaran penting.
Tanyain ke diri sendiri: teknologi yang kubangun ini bisa disalahgunakan nggak?
Kalau bisa, apakah aku punya mekanisme buat prevent itu?
Atau setidaknya, apakah aku siap ninggalin kalau garis moralnya ketebak?
Jangan nunggu sampai rekan kerja mulai salam dengan "descent into fascism."
Saat itu datang, mungkin udah terlambat buat nggak berasa kotor.
Tech ethics bukan cuma buzzword buat conference.
Ini soal pilihan sehari-hari yang seringnya nggak terlihat.
Sampai suatu hari, terlalu jelas buat diabaikan.
Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
Ars Technica
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Technology update dari Ars Technica.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Ars Technica.
Baca artikel asli di Ars Technica→


