Dua startup energi bersih X-energy dan Fervo siap IPO. Apakah ini awal kebangkitan pasar saham untuk teknologi iklim?

Lama banget ya nungguin IPO climate tech yang bener-bener rame. Sekarang tiba-tiba ada kabar menarik.

X-energy, startup nuklir dari Maryland, baru aja go public lewat SPAC. Valuasinya? Sekitar $2 miliar.

Terus Fervo Energy, perusahaan geothermal yang pakai teknik fracking, juga siap-siap IPO tahun ini.

Advertisement

Dua-duanya energi bersih. Dua-duanya infrastruktur berat. Ini bukan software yang bisa scale cepat.

Jadi kenapa mereka berani IPO sekarang? Padahal pasar saham tech masih anget-angetnya.

Satu alasan: investor institusional mulai lirik lagi. Dana pensiun, sovereign wealth funds, mereka butuh exposure ke transisi energi.

Bukan cuma soal return. Ini soal hedging risiko iklim di portofolio jangka panjang mereka.

Terus ada Inflation Reduction Act. Subsidi dari pemerintah AS bikin proyek nuklir dan geothermal jadi lebih bankable.

X-energy contohnya. Mereka bangun reaktor modular kecil (SMR). Lebih murah, lebih cepat deploy, risiko kecelakaan lebih rendah.

Fervo punya angle berbeda. Mereja bor ke bawah tanah, pakai directional drilling kayak di minyak gas. Tapi yang diambil panas bumi, bukan fosil.

Teknik ini disebut enhanced geothermal systems (EGS). Bisa buka lokasi baru yang dulu nggak viable.

Masalahnya? Capex-nya gede banget. Satu proyek bisa miliaran dolar. Butuh investor yang sabar dan punya dana dalam.

Itulah kenapa IPO jadi penting. Bukan cuma buat duit operasional, tapi buat credibility.

Kalau kamu bisa list di NYSE, artinya regulator, bank, kontraktor besar, semua jadi lebih percaya.

Tapi jangan seneng dulu. Track record IPO climate tech sebelumnya... ya gitu deh.

Lihat aja Sunrun, Enphase, atau Plug Power. Naik turunnya brutal. Beberapa masih struggle buat profitable.

Market masih skeptis sama hardware. Apalagi yang butuh waktu 5-10 tahun buat revenue signifikan.

Yang bedain X-energy dan Fervo? Mereka punya offtake agreement. Kontrak jual listrik jangka panjang sudah ada.

X-energy deal sama Amazon dan Google. Fervo juga ada kontrak dengan utility besar.

Ini ngurangin risiko revenue. Investor suka yang predictable, meski capex-nya tinggi.

Satu lagi: geothermal dan nuklir itu baseload. Bisa jalan 24/7, nggak tergantung matahari atau angin.

Di grid yang makin penuh solar dan wind, nilai baseload ini naik. Bisa stabilin sistem.

Jadi apakah ini the moment yang ditunggu-tunggu? Mungkin iya, mungkin belum.

Dua IPO nggak bikin trend. Tapi kalau berhasil, bisa buka pintu buat puluhan startup climate tech lain yang ngantri.

Buat kamu yang ngikutin space ini, worth watching. Bukan buat FOMO beli saham, tapi buat ngerti arah industri.

Praktisnya gini: kalau kamu kerja di climate tech, atau invest di sana, perhatikan pipeline IPO 12-18 bulan ke depan.

Kalau ada 5-10 company serius go public, berarti window beneran buka. Kalau cuma dua-tiga terus redup lagi, ya masih winter.

Yang pasti, uang besar mulai gerak. Dan itu selalu berita baik buat inovasi.

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

TechCrunch

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari TechCrunch.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan TechCrunch.

Baca artikel asli di TechCrunch
#Technology#TechCrunch#rss