Firmus, pembangun data center AI yang didukung Nvidia, berhasil mengumpulkan $1,35 miliar dan mencapai valuasi $5,5 miliar. Simak kisah perusahaan yang dijuluki 'Southgate' ini.

Dunia AI butuh rumah. Bukan rumah biasa, tapi data center raksasa yang bisa menampung ribuan GPU Nvidia untuk melatih model-model AI canggih. Nah, Firmus ini salah satu pemain yang lagi sibuk bangun rumah-rumah besar itu.

Firmus adalah perusahaan data center AI asal Asia yang sekarang dijuluki 'Southgate'. Julukan ini muncul karena mereka fokus bangun infrastruktur di belahan dunia selatan, terutama Asia Pasifik dan Australia.

Dalam waktu enam bulan aja, Firmus berhasil mengumpulkan $1,35 miliar. Valuasi mereka sekarang mencapai $5,5 miliar. Angka yang gila banget untuk perusahaan yang masih relatif baru.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Yang bikin menarik, Nvidia turut andil di sini. Ya, Nvidia yang sekarang jadi raja GPU AI itu. Dukungan dari Nvidia ini bukan cuma soal uang, tapi juga akses ke teknologi dan jaringan pelanggan mereka.

Kenapa Nvidia mau investasi? Karena Firmus punya pendekatan berbeda. Mereka bangun data center yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Di era AI yang makin boros energi, ini jadi nilai jual penting.

Firmus pakai teknologi liquid cooling untuk mengurangi konsumsi listrik. Mereka juga pilih lokasi strategis dengan akses energi terbarukan. Jadi bukan cuma cepat bangunnya, tapi juga sustainabel.

Data center tradisional itu boros banget. Bisa habisin listrik setara kota kecil. Makanya pendekatan Firmus ini menarik buat investor yang peduli ESG dan biaya operasional jangka panjang.

Perusahaan ini didirikan oleh Ted Pretty, orang yang punya pengalaman bangun infrastruktur digital di Australia. Dia lihat celah besar: permintaan data center AI di Asia meledak, tapi supply-nya terbatas.

Asia Pasifik adalah pasar data center AI tercepat di dunia. Tapi banyak perusahaan global kesulitan masuk karena regulasi dan kompleksitas lokal. Firmus manfaatin ini dengan jadi partner lokal yang ngerti medan.

Strategi mereka adalah build-to-suit. Artinya, mereka bangun sesuai kebutuhan spesifik klien. Bukan data center generik yang dipaksa masuk. Fleksibilitas ini jadi keunggulan kompetitif.

Klien Firmus termasuk perusahaan cloud hyperscaler dan startup AI besar. Mereka butuh infrastruktur cepat, scalable, dan reliable. Firmus janji bisa deliver dalam waktu lebih singkat dari standar industri.

Kecepatan ini penting banget. Di dunia AI, siapa cepat dia dapat. Model baru rilis tiap bulan, perusahaan yang lambat bangun infrastruktur bakal ketinggalan kereta.

Nvidia nggak cuma investasi di Firmus. Mereka juga punya kemitraan strategis untuk integrasi teknologi. Jadi data center Firmus di-optimize buat GPU Nvidia, hasilnya performa lebih baik buat klien.

Ini win-win buat kedua belah pihak. Nvidia pastikan infrastruktur siap untuk produk mereka. Firmus dapat competitive advantage dengan teknologi terdepan.

Valuasi $5,5 miliar ini menempatkan Firmus di antara unicorn infrastruktur AI terbesar. Tapi ini baru awal. Mereka punya pipeline proyek yang nilainya lebih besar dari fundraising yang baru dapat.

Ambisi Firmus jelas: jadi pemain infrastruktur AI terkemuka di Asia Pasifik. Mereka rencana ekspansi ke lebih banyak negara dalam dua tahun ke depan.

Yang bisa kamu ambil dari sini? Pertama, infrastruktur AI adalah opportunity besar yang sering dilupakan. Semua orang fokus ke model AI, tapi tanpa data center, model itu nggak bisa jalan.

Kedua, sustainability bukan lagi opsional. Investor dan klien makin pilih solusi yang efisien energi. Ini berlaku buat semua bisnis, nggak cuma data center.

Ketiga, partnership dengan pemain ekosistem penting. Nvidia nggak cuma kasih uang, tapi juga akses ke teknologi dan pasar. Cari partner yang bisa kasih lebih dari modal.

Terakhir, kecepatan eksekusi adalah segalanya. Firmus bangun reputasi dengan deliver cepat. Di pasar yang competitive, kemampuan execute bisa jadi pembeda utama.

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

TechCrunch

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari TechCrunch.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan TechCrunch.

Baca artikel asli di TechCrunch
#Technology#TechCrunch#rss