Refleksi tentang era Tim Cook sebagai CEO Apple: dari kesuksesan finansial hingga perubahan karakter perusahaan yang dulu dipimpin Steve Jobs.

Tim Cook akhirnya umumkan pengunduran diri sebagai CEO Apple. Setelah 15 tahun memimpin, dia serahkan tongkat estafet ke John Ternus bulan September nanti.

Bukan kejutan mendadak sih. Isu ini sudah santer sejak 2024, terutama setelah Ternus yang presentasi MacBook Neo, bukan Cook. Tapi tetap, ini momen bersejarah.

Saya sudah lama ikuti perkembangan Apple sejak era Cook dimulai. Ada beberapa hal yang bakal selalu saya ingat tentang periode ini.

Advertisement

Pertama, Cook bawa Apple jadi mesin uang yang luar biasa. Saat Jobs meninggal 2011, valuasi Apple sekitar $350 miliar. Sekarang? Lebih dari $3 triliun.

Tapi ada trade-off-nya. Apple jadi lebih predictable, kurang mengejutkan. Dulu setiap keynote Jobs bikin deg-degan. Sekarang? Update tahunan yang bisa ditebak.

Kedua, Cook fokus banget pada services. Apple Music, iCloud, Apple TV+, Apple Pay. Ini jadi sumber pendapatan berulang yang stabil.

Hardware tetap jadi andalan, tapi margin services jauh lebih menggiurkan. Cook lihat ini sebagai masa depan Apple.

Ketiga, ada produk yang flop. Ingat Apple Watch Edition emas 18 karat? Harganya $10 ribu, lalu discontinue. Atau HomePod pertama yang kalah saing dari Amazon dan Google.

Tapi Cook punya kekuatan: dia tahu kapan harus cut losses dan pivot. HomePod mini jauh lebih sukses. Apple Watch Series akhirnya temukan positioning-nya sebagai perangkat kesehatan.

Keempat, Cook bawa Apple jadi perusahaan yang lebih berprinsip soal privasi. App Tracking Transparency, enkripsi end-to-end, ini jadi diferensiator kuat.

Bukan purely altruistik sih. Ini juga strategi bisnis yang cerdas. Saat Meta dan Google bergantung pada data, Apple jual privasi sebagai premium feature.

Kelima, hubungan dengan China jadi double-edged sword. Manufacturing Apple sangat bergantung di sana, tapi juga bikin perusahaan rentan tekanan politik.

Cook jago navigasi ini. Dia bangun relationship dengan pemerintah China, tapi juga mulai diversify ke India dan Vietnam. Proses lambat, tapi berjalan.

Keenam, dan ini pribadi: Cook bawa stabilitas yang Jobs nggak bisa berikan. Jobs genius, tapi volatile. Cook konsisten, predictable, reliable.

Bagi investor dan employee, ini berharga. Bagi penggemar yang rindu 'one more thing' yang bikin merinding? Mungkin kurang.

Jadi apa takeaway praktisnya? Kalau kamu founder atau leader, pahami bahwa setiap era butuh tipe kepemimpinan berbeda.

Jobs cocok untuk disruption dan establishing vision. Cook cocok untuk scaling dan operational excellence. Nggak ada yang lebih baik, cuma beda konteks.

Apple sekarang menghadapi tantangan baru: AI race yang mereka terlambat masuk, regulasi yang makin ketat, dan pasar smartphone yang matang.

Ternus punya tugas berat. Bukan cuma lanjutkan legacy Cook, tapi juga mungkin bawa kembali sedikit 'kegilaan' yang hilang.

Satu hal pasti: 15 tahun Cook bukanlah ending yang buruk. Dia bukti bahwa suksesi yang terencana bisa berhasil, meski nggak selalu sexy.

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

Ars Technica

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari Ars Technica.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Ars Technica.

Baca artikel asli di Ars Technica
#Technology#ArsTechnica#rss