Stripe dan Airwallex dulu sempat dekat dengan akuisisi, kini malah bersaing ketat di pasar pembayaran global. Simak perubahan strategi dan apa artinya buat bisnis kamu.

Dulu mereka hampir jadi satu tim. Sekarang? Persaingan makin panas.

Stripe dan Airwallex punya cerita menarik. Dua perusahaan fintech besar ini pernah berada dalam posisi yang cukup dekat untuk merger atau akuisisi. Tapi kenyataannya berkata lain. Kini mereka malah saling rebut pasar satu sama lain.

Untuk sebagian besar sejarahnya, kedua perusahaan ini sebenarnya beroperasi di wilayah berbeda. Mereka juga menjual ke segmen pelanggan yang berbeda. Stripe lebih fokus ke pasar Amerika Utara dan Eropa dengan basis merchant yang sudah mapan. Airwallex? Lebih banyak bermain di Asia Pasifik, terutama untuk bisnis yang butuh solusi cross-border payment.

Advertisement

Tapi sekarang garis batasnya mulai kabur.

Airwallex makin agresif ekspansi ke pasar barat. Stripe juga makin gencar masuk ke wilayah yang dulu jadi 'ladang' Airwallex. Persaingan yang tadinya tidak langsung, kini jadi head-to-head.

Apa yang bikin mereka berubah pikiran soal akuisisi?

Banyak faktor. Salah satunya adalah valuasi dan ambisi masing-masing founder. Airwallex tumbuh sangat cepat di Asia. Mereka nggak mau cuma jadi target akuisisi, tapi pengen jadi pemain global sendiri. Stripe di sisi lain juga ngerasa bisa ekspansi organik tanpa harus beli perusahaan lain.

Terus apa yang bikin mereka sekarang saling tabrakan di pasar yang sama?

Pertama, pasar pembayaran global makin besar dan makin kompleks. Bisnis-bisnis sekarang butuh solusi yang bisa handle multi-currency, multi-country, dan multi-channel dalam satu platform. Kedua, customer expectation udah berubah. Mereka nggak mau pindah-pindah provider untuk kebutuhan berbeda. Mau satu dashboard yang bisa urus semua.

Stripe punya kekuatan di infrastruktur payment yang sudah matang. Developer experience mereka salah satu yang terbaik di industri. Tapi Airwallex punya keunggulan di FX (foreign exchange) dan solusi treasury untuk bisnis internasional. Mereka juga lebih fleksibel dalam hal compliance di berbagai yurisdiksi Asia.

Jadi sekarang pertarungannya jadi: siapa yang bisa jadi one-stop solution terbaik?

Stripe lagi berusaha nambah capability di cross-border dan multi-currency. Airwallex lagi push untuk improve developer tools dan checkout experience yang dulu jadi kelemahan relatif mereka.

Apa takeaway praktis buat kamu yang punya bisnis atau kerja di fintech?

Pertama, jangan terlalu nyaman dengan posisi 'niche'. Apa yang jadi keunggulan kompetitif hari ini bisa jadi commodity besok. Stripe dan Airwallex dulu punya positioning yang cukup berbeda, tapi convergence-nya cepet banget.

Kedua, ekspansi geografis masih jadi growth driver paling powerful di fintech. Tapi juga paling mahal dan paling riskan. Butuh balance antara speed dan sustainable unit economics.

Ketiga, untuk founder: jangan buru-buru jual perusahaan kalau masih ada runway untuk jadi lebih besar. Airwallex memilih jalan independen dan sekarang valuasinya jauh lebih tinggi dari tawaran akuisisi yang pernah ada. Risikonya besar, tapi payoff-nya juga signifikan.

Terakhir, buat yang lagi pilih payment provider: manfaatin persaingan ini. Dua perusahaan besar yang saling kejar biasanya berarti pricing yang lebih kompetitif, fitur yang lebih cepat dirilis, dan customer service yang lebih diperhatiin. Jangan takut negotiate atau minta custom solution.

Persaingan Stripe vs Airwallex ini baru dimulai. Yang menarik diikuti adalah: apakah ada ruang untuk dua pemenang, atau salah satu bakal dominasi?

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

TechCrunch

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari TechCrunch.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan TechCrunch.

Baca artikel asli di TechCrunch
#Technology#TechCrunch#rss