Colossal Biosciences dikritik karena klaim kloning red wolf yang kontroversial. Para ilmuwan mempertanyakan apakah hasil kloning benar-benar red wolf atau hanya coyote hibrida, serta apakah metode ini efektif untuk konservasi.
Bayangin kamu bangun pagi-pagi buta, masih gelap, terus nyetir ke tengah kabut tebal di Texas demi nangkep sesuatu yang mirip serigala. Itu yang dilakukan Tanner Broussard, mahasiswa master yang lagi riset tentang red wolf—spesies serigala paling terancam punah di dunia.
Red wolf ini dulu pernah merajai hutan dan rawa dari Texas sampai New York. Tapi setelah 200 tahun diburu manusia, mereka dinyatakan punah di alam liar pada 1980. Tinggal 14 ekor yang selamat, dan semua red wolf yang ada sekarang turunan dari 12 di antaranya.
Nah, yang menarik, di pesisir Teluk Mexico masih ada hewan mirip serigala. Orang-orang bilang mereka 'ghost wolf'—coyote yang punya DNA red wolf di dalamnya. Taller, kaki lebih panjang, bulu ada warna coklat kekayuan.
Broussard sendiri tumbuh besar di Louisiana, sering lihat coyote lewat di peternakan orang tuanya. Bayangin excitement-nya waktu tahu hewan itu bukan sekadar coyote biasa.
Terus tahun lalu, ada berita mengejutkan. Startup namanya Colossal Biosciences ngumumin mereka berhasil kloning red wolf. Empat ekor. Broussard dan komunitas peneliti serigala kaget semua.
"Itu surprise buat hampir semua orang di komunitas wolf," kata Broussard. Program breeding captive yang diurus Association of Zoos and Aquariums aja nggak tahu ada proyek kloning.
Colossal ini perusahaan biotek yang didirikan 2021 oleh geneticist Harvard, George Church. Mereka terkenal karena proyek de-extinction—mau bikin mammoth kembali dari punah pakai teknologi CRISPR.
Soal red wolf, Colossal bilang mereka kloning dari DNA canid di Gulf Coast—hewan-hewan yang Broussard dan tim riset lagi pelajari. Tapi lokasi kloningnya dirahasiakan, dan banyak ilmuwan bingung: buat apa sebenarnya kloning ini?
Masalahnya, status 'ghost wolf' ini sendiri masih diperdebatkan. Secara genetik, mereka rata-rata cuma setengah red wolf, bahkan sering lebih sedikit. Menurut aturan US Fish and Wildlife Service, red wolf harus punya minimal 87,5% lineage dari 12 founder tadi.
Jadi kalau Colossal kloning dari hewan yang nggak qualified sebagai red wolf, hasilnya apa? Red wolf beneran atau cuma coyote super?
Bridgett vonHoldt, geneticist dari Princeton yang jadi penasihat ilmiah Colossal, punya pandangan berbeda. Dia bilang konsep 'species' itu nggak sejelas yang diajarin sekolah dulu. Yang penting fungsi ekologis, bukan genetic purity.
VonHoldt bahkan nggak suka istilah 'genetic purity'. Katanya itu bikin dia ingat sejarah eugenics di manusia, "bikin setiap bagian jiwa saya sakit."
Tapi Joey Hinton, ekolog yang pernah nangkep canid yang jadi sumber DNA Colossal, lebih skeptis. Dia bilang kloning ini cuma buat headline dan dapetin funding. "Kerjaannya apa-apa selain simbolis," katanya.
Matt James, chief animal officer Colossal, tentu nggak setuju. Dia bilang kloning ini expands genetic toolkit untuk species yang terancam, dan nunjukin scalable approach buat restorasi biodiversitas.
Yang bikin kontroversi makin panas: CEO Colossal, Ben Lamm, pas ngomong di podcast Joe Rogan bilang dia nawarin ratusan red wolf kloning ke pemerintah federal gratis. Tapi pemerintah Biden mau studi bertahun-tahun dulu.
Lamm agak kesal dengan respons itu. Katanya perusahaannya dapet lebih banyak traction sama administrasi Trump.
Nah, di sisi lain ada tim riset lain yang pakai pendekatan lebih tradisional. VonHoldt dan Kristin Brzeski dari Michigan Tech punya proyek namanya de-introgression: breeding canid paling 'wolfy' selama tiga generasi buat naikin persentase red wolf genes.
Pendekatan ini lebih lambat tapi lebih alami. Nggak perlu teknologi canggih, cuma observasi perilaku di alam liar dan matching pasangan yang tepat.
Hinton sendiri sekarang punya proyek sendiri: Texas-Louisiana Canid Project. Dia fokus ke appearance dan behavior, bukan cuma DNA. Harapannya, kalau kita tahu kenapa Gulf Coast canids bisa survive bertahun-tahun, kita bisa bantu populasi red wolf resmi yang lagi struggling.
Yang ironis, red wolf ini sebenarnya sempat 'dihapus' sengaja demi menyelamatkannya. Tahun 1960-an, trappers tangkap ratusan canid, yang dianggap pure red wolf dibawa breeding captive, sisanya dibunuh. Cara aneh buat konservasi, tapi itu pilihan yang ada waktu itu.
Sekarang kita punya teknologi baru, tapi pertanyaan etis dan ilmiahnya makin kompleks. Kalau kita buang konsep 'endangered species', apakah kita bakal protect 'endangered functions' instead? Atau malah nggak protect apa-apa?
VonHoldt punya visi menarik: fokus ke fungsi, bukan purity. Biarkan evolusi berjalan. Stop protect wolf dari masa lalu, pikirkan wolf masa depan. Tapi di era pemanasan global dan habitat yang hancur, adaptasi cepat memang mungkin perlu.
Practical takeaway buat kamu: konservasi itu nggak selalu hitam putih. Antara teknologi canggih seperti kloning dan pendekatan tradisional breeding, keduanya punya plus minus. Yang penting, keberhasilan konservasi bergantung pada kita mau mengakui keberadaan hewan ini—dan memutuskan itu cukup buat kita peduli.
Di Galveston, sekelompok warga lokal bikin 'ghost wolf team'. Mereka berharap kehadiran hewan spesial ini bisa nahan pembangunan liar yang menghancurkan green space terakhir di pulau itu.
Entah kamu sebut mereka red wolf, ghost wolf, atau coyote hibrida, yang jelas ada sesuatu yang berharga di sana. Sesuatu yang layak dilindungi.
Tapi sampai ada bukti kuat bahwa Gulf Coast canids ini memang red wolf, mereka nggak bisa diklasifikasikan secara legal untuk konservasi federal. Dan sampai saat itu, klaim Colossal tetap dipertanyakan.
Seperti yang Broussard bilang pas lihat rekaman kamera: seekor canid berhenti dan melolong, terus jawaban serupa datang dari dalam rawa. "That's super cool."
Keberadaan mereka memang seperti hantu—selalu di ambang penglihatan, sulit ditangkap, tapi cukup nyata buat yang mau melihat.
Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
MIT Technology Review
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Technology update dari MIT Technology Review.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.
Baca artikel asli di MIT Technology Review→


