Data center untuk OpenAI, Meta, Microsoft, dan xAI bisa hasilkan emisi gas rumah kaca yang ngalahin emisi negara-negara. Ini bahaya tersembunyi dari booming AI.

Kamu tahu nggak, proyek gas alam buat cuma 11 data center di Amerika Serikat bisa ngeluarin emisi gas rumah kaca lebih gede dari seluruh negara Maroko?

Menurut dokumen izin udara yang dilihat WIRED, proyek-proyek ini punya potensi emisi lebih dari 129 juta ton per tahun.

Yang bikin miris, proyek ini cuma ujung gunung es dari dampak iklim yang dibawa booming AI.

Advertisement

Data center-data center ini dibangun buat perusahaan AI besar kayak OpenAI, Meta, Microsoft, sama xAI.

Mereka lagi berlomba-lomba dapetin pasokan listrik masif buat ratusan data center di seluruh negeri.

Nah, karena nunggu koneksi ke jaringan listrik tradisional itu lama banget, banyak developer data center milih bikin pembangkit listrik sendiri.

Trend ini namanya behind-the-meter power, alias pasokan listrik yang langsung ke data center tanpa lewat grid umum.

Selain nunggu lama, mereka juga ngerasa public resistance makin gede soal tagihan listrik yang bisa naik.

Jadi ya, bikin sendiri jadi pilihan yang makin populer, meski konsekuensinya emisi karbon makin tinggi.

Proyek-proyek gas alam ini udah diumumkan atau lagi dibangun, dengan perusahaan-perusahaan yang udah ngajuin dokumen izin udara ke badan negara bagian.

Yang perlu kamu inget, ini baru 11 proyek dari ratusan data center yang direncanain.

Bayangin aja kalau semua data center AI di AS pakai skema serupa, dampak iklimnya bisa jadi kacau balau.

AI emang keren dan bikin hidup lebih gampang, tapi ada harga yang harus dibayar ke planet kita.

Training model AI besar butuh energi luar biasa, dan data center harus jalan 24/7.

Nggak heran kalau permintaan listrik buat data center diprediksi naik signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Beberapa perusahaan tech bilang mereka investasi ke renewable energy, tapi kenyataannya banyak yang masih andelin gas alam.

Gas alam lebih murah dan cepat dibangun, tapi tetap aja ngeluarin CO2 dan methane yang bahaya buat iklim.

Methane leaks dari infrastruktur gas bisa jadi 80 kali lebih powerful dari CO2 dalam jangka pendek.

Jadi meski disebut 'transisi', kenyataannya kita makin terjebak di fossil fuel economy.

Buat kamu yang kerja di tech atau pakai AI sehari-hari, ini reminder penting.

Setiap kali kamu pakai ChatGPT atau tool AI lain, ada energi besar yang kepake di balik layar.

Praktikal takeaway-nya: mulai sekarang, lebih selektif dalam pakai AI tools.

Jangan generate konten yang nggak perlu, dan matiin auto-suggest kalau nggak dibutuhin.

Kalau kamu developer atau decision maker, pertimbangin efisiensi energi dalam arsitektur sistem.

Pilih cloud provider yang transparan soal carbon footprint dan punya komitmen renewable energy beneran, bukan cuma greenwashing.

Tekanan dari konsumen dan komunitas tech bisa ngaruh buat perusahaan besar ubah arah.

Kita nggak bisa stop perkembangan AI, tapi bisa dorong agar berkembang lebih berkelanjutan.

Masa depan AI yang cerah harusnya nggak bikin planet kita makin panas.

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

Ars Technica

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari Ars Technica.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Ars Technica.

Baca artikel asli di Ars Technica
#Technology#ArsTechnica#rss