Bola Trionda Piala Dunia 2026 punya desain baru yang bikin tendangan jauh lebih pendek. Simak penjelasan fisikanya dari peneliti.
Piala Dunia 2026 makin dekat nih. Turnamen kali ini bakal digelar di tiga negara sekaligus: AS, Kanada, dan Meksiko. Jumlah timnya juga lebih gede dari sebelumnya. Tapi ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian kamu: bola yang dipakai kali ini punya desain baru yang bisa ngaruh banget ke jalannya pertandingan.
Bola itu namanya Trionda, buatan Adidas. Bedanya, Trionda cuma punya empat panel doang, bukan 32 kayak bola jaman dulu. Warnanya merah, hijau, dan biru, plus ada ukiran daun maple, elang hijau, sama bintang yang ngewakilin tiga negara tuan rumah.
Tim peneliti dari University of Tsukuba, Jepang, udah nyoba bola ini di wind tunnel. Hasilnya? Trionda memang lebih stabil dari bola-bola sebelumnya, tapi ada konsekuensinya. Tendangan dari jarak jauh bisa jadi nggak sejauh yang kamu kira.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
John Eric Goff, salah satu peneliti dari Purdue University, bilang kayak gini: "Trionda bakal sedikit 'hukum' tendangan ekstrem jarak jauh, tapi dia bakal ngasih reward buat teknik bersih dan terbang yang prediktabil." Jadi keeper, bek yang suka long pass, sama striker jarak jauh bakal kerasa bedanya paling duluan.
Sejak 1970-an, Adidas memang rutin ngeluarin bola baru tiap Piala Dunia. Awalnya bedanya cuma cosmetic doang, kayak grafis Aztec pas 1986 di Meksiko.
Baru mulai 2006, desainnya berubah drastis. Bola +Teamgeist punya 14 panel yang ditempel pake thermal bonding, bukan dijahit. Ini bikin bola nggak gampang nyerap air dan makin berat pas main hujan.
Goff mulai riset bola dari sekitar situ. Sejak itu, dia dan timnya ngelacak perubahan desain bola tiap empat tahun. Apalagi setelah Jabulani 2010 yang sempat heboh gara-gara terbangnya terlalu aneh dan susah ditebak.
Masalah Jabulani ternyata simple: permukaannya terlalu licin. Padahal di kecepatan tinggi, bola itu ngebut banget. Tapi begal lambat sedikit, langsung kena yang namanya drag crisis. Bola tiba-tiba kehilangan kecepatan drastis dan terbangnya jadi aneh.
Bola modern kayak Brazuca 2014 dan Trionda 2026 punya solusinya: bikin permukaan lebih kasar. Lebih banyak seam, lebih dalam groove, biar drag crisis itu terjadi di kecepatan yang lebih rendah. Hasilnya? Bola terbang lebih jauh dan lebih prediktabil.
Tapi Trionda punya trade-off unik. Meski drag crisis-nya paling lambat sejak 2010, drag coefficient-nya justru lebih tinggi di kecepatan tinggi. Artinya, waktu tendangan baru keluar kenceng, bola malah melambat lebih cepat dibanding Brazuca atau Al Rihla.
Praktisnya, tendangan jarak jauh bisa jadi beda beberapa meter lebih pendek. Nggak banyak sih, tapi cukup buat bikin keeper lebih tenang atau striker lebih kesel kalo golnya jadi miss tipis.
Kabar baiknya, pemain udah bisa latihan pake Trionda beberapa bulan sebelum turnamen. Goff juga nyebut desain Trionda mirip Nike Flight, jadi pemain yang biasa pake Nike mungkin punya sedikit keunggulan adaptasi.
Adidas sendiri sih nggak komentar soal hasil penelitian ini. Tapi mereka memang udah testing selama 3,5 tahun pake robot penendang dan nyoba di 7 dari 16 stadion tuan rumah.
Goff tetap kirim hasil risetnya ke FIFA dan Adidas. Buat dia, sepak bola adalah olahraga paling populer di dunia, dan bola adalah peralatan paling penting di turnamen paling penting. Test eksternal kayak gini penting buat nambah insight yang mungkin terlewat dari testing internal.
Buat kamu yang main bola atau cuma nonton, takeaway praktisnya simple: jangan kaget kalo tendangan jarak jauh di Piala Dunia 2026 tiba-tiba nggak seenak dulu. Mungkin bukan salah pemainnya, tapi salah fisika bolanya. Teknik bersih dan penguasaan bola jadi lebih penting dari sebelumnya.
Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
MIT Technology Review
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Technology update dari MIT Technology Review.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.
Baca artikel asli di MIT Technology Review→