Tokenisasi aset illiquid butuh lebih dari sekadar teknologi blockchain. Pelajari kenapa likuiditas nggak muncul secara otomatis dan apa yang dibutuhkan pasar.

Tokenisasi sering dianggap sebagai solusi ajaib buat aset yang susah dijual—properti, seni, atau instrumen keuangan kompleks. Tapi pembicara di Paris Blockchain Week 2026 punya kabar realistis: teknologi ini nggak otomatis bikin pasar jadi aktif.

Mereka setuju tokenisasi bisa memperluas akses dan mempermudah penerbitan. Investor retail bisa ikut beli sebagian kecil gedung perkantoran, misalnya. Tapi ada bagian penting yang sering dilewati: likuiditas di pasar sekunder.

Bayangin kamu punya token yang mewakili saham properti di Paris. Secara teknis, kamu bisa jual kapan aja. Tapi kalau nggak ada yang mau beli, harga tetap stuck. Tokenisasi cuma bikin aset itu "bisa diperdagangkan"—bukan "mudah diperdagangkan".

Advertisement

Masalahnya, banyak proyek tokenisasi fokus banget di sisi teknologi. Smart contract-nya canggih, compliance-nya ketat, tapi lupa satu hal: siapa yang bakal jadi market maker-nya?

Likuiditas butuh partisipan aktif. Butuh buyer dan seller yang konsisten, bukan cuma pas momen hype. Butuh juga infrastruktur seperti order book yang dalam atau AMM (Automated Market Maker) yang efisien.

Tanpa itu, token kamu bisa jadi "illiquid asset yang di-tokenisasi"—secara legal modern, tapi praktis tetap susah dicairin. Ironis, kan?

Jadi apa yang sebenarnya dibutuhkan? Para pembicara menyoroti beberapa elemen kunci. Pertama, desain token yang benar-benar sesuai dengan karakteristik aset underlying. Nggak semua aset cocok dipecah jadi ribuan token kecil.

Kedua, regulasi yang jelas soal perdagangan sekunder. Banyak yurisdiksi masih abu-abu soal ini, bikin institusi besar ragu masuk. Padahal mereka yang biasanya jadi penyedia likuiditas utama.

Ketiga, dan mungkin paling penting: adopsi bertahap dengan komunitas yang engaged. Proyek tokenisasi sukses biasanya mulai dari niche yang spesifik, bukan langsung targeting mass market.

Contohnya? Tokenisasi whisky atau wine yang punya komunitas kolektor solid. Mereka udah paham valuasi, punya alasan hold jangka panjang, dan terkadang aktif trading antar sesama enthusiast.

Compare sama proyek yang langsung tokenisasi properti komersial besar tanpa investor institusional yang committed. Hasilnya? Token beredar tapi volume trading mendekati nol.

Ini bukan berarti tokenisasi gagal sebagai konsep. Justru sebaliknya—potensinya besar banget. Tapi ekspektasinya perlu dikoreksi. Tokenisasi adalah enabler, bukan solusi lengkap.

Buat kamu yang tertarik investasi di tokenized assets, ada takeaway praktis. Jangan cuma lihat "apa" yang di-tokenisasi. Cek juga "bagaimana" likuiditasnya bakal terjaga.

Tanya: siapa market maker-nya? Apa ada committed capital buat buyback? Volume trading historisnya gimana? Komunitasnya aktif atau cuma bot?

Kalau jawabannya kabur, hati-hati. Kamu bisa terjebak dengan aset yang "teknisnya" bisa dijual, tapi praktis nggak ada yang mau beli.

Di akhirnya, blockchain memang powerful buat fractional ownership dan settlement yang lebih cepat. Tapi pasar tetap pasar—butuh partisipan, kepercayaan, dan insentif yang seimbang. Tokenisasi nggak mengubah hukum ekonomi dasar.

Yang berubah adalah speed dan efisiensi. Tapi speed tanpa arah? Bisa bikin kamu cepat-cepat rugi.

Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

CoinTelegraph

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Crypto update dari CoinTelegraph.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinTelegraph.

Baca artikel asli di CoinTelegraph
#Crypto#CoinTelegraph#rss