Dominasi AI dalam pendanaan VC memaksa startup crypto menemukan cara baru untuk menarik investor. Simak strategi adaptasi yang sedang berlangsung.

Bayangin ini: perusahaan AI baru saja mengumpulkan $242 miliar di awal 2026. Itu 80% dari seluruh dana venture capital di dunia. Gartner bahkan memperkirakan total spending untuk AI bakal tembus $2,52 triliun tahun ini.

Angka itu gila banget. Bagi startup crypto, ini berarti persaingan dana VC jadi super ketat. Investor yang dulu antre buat funding proyek blockchain, sekarang banyak yang pindah haluan ke AI.

Tapi ini bukan berarti crypto mati. Justru, banyak founder crypto yang mulai pivot dan cari angle baru. Mereka sadar: harus ada diferensiasi yang jelas kalau mau tetap menarik perhatian investor.

Advertisement

Salah satu strategi yang muncul adalah integrasi AI ke dalam produk crypto. Bukan cuma buzzword, tapi implementasi nyata. Contohnya: protocol DeFi yang pakai machine learning buat prediksi risiko, atau platform NFT yang generate art pakai generative AI.

Cara ini bikin startup crypto jadi relevan lagi di mata VC. Investor lihatnya: ini bukan cuma crypto doang, tapi ada komponen AI-nya. Jadi masuk ke dua kategori yang lagi hot.

Strategi lain yang banyak dipakai adalah fokus ke revenue dan unit economics yang sehat. Di era AI hype, banyak startup AI yang valuation-nya tinggi tapi burn rate-nya juga gila. Startup crypto yang bisa tunjukin path to profitability jadi menarik sebagai kontras.

Beberapa founder juga mulai eksplorasi niche yang AI belum bisa sentuh. Contohnya: infrastructure untuk decentralized physical infrastructure networks (DePIN), atau use case yang butuh trustless execution tanpa perlu sentralisasi data.

Ada juga yang beralih ke funding alternatif. Community rounds, grants dari foundation, atau strategic partnership dengan corporate yang cari exposure ke crypto. VC bukan lagi satu-satunya jalan.

Yang menarik, beberapa VC crypto native justru melihat ini sebagai opportunity. Mereka sadar valuation startup AI udah terlalu tinggi dan crowded. Sementara crypto masih undervalued di beberapa sektor. Jadi ada window buat investasi dengan entry price yang lebih masuk akal.

Tapi jujur aja, adaptasi ini nggak mudah. Banyak tim crypto yang harus belajar skill baru, rekrut talent AI, atau bahkan pivot business model total. Yang nggak mau berubah, ya tertinggal.

Buat kamu yang founder atau builder di crypto space, takeaway praktisnya: jangan anggap AI sebagai ancaman doang. Pikirin gimana cara integrate AI ke produkmu, atau minimal paham gimana AI bakal disrupt industri kamu.

Kalau bisa tunjukin ke investor bahwa kamu paham landscape ini dan punya strategi adaptasi, peluang dapet funding masih ada. Yang penting: jangan jual mimpi doang, tapi kasih bukti execution yang nyata.

Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

CoinDesk

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Crypto update dari CoinDesk.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinDesk.

Baca artikel asli di CoinDesk
#Crypto#CoinDesk#rss