Fragmentasi likuiditas stablecoin bikin transfer besar jadi rumit. CEO Eco bahas kenapa stablecoin sekarang behave kayak pasar FX.
Stablecoin kan janjinya simple: pindahin dollar dengan mulus, cepat, dan murah. Tapi realitanya? Makin besar transfernya, makin ribet eksekusinya.
CEO Eco Ryne Saxe bilang likuiditas yang terpecah-pecah jadi biang keroknya. Bayangin mau pindahin jutaan dollar, tapi kamu harus nge-split ke berbagai pool kecil-kecil. Nggak seamless lagi, malah kerasa kayak trading forex.
Di pasar FX tradisional, fragmented liquidity itu normal. Bank besar harus smart routing, hitung spread, timing execution. Sekarang stablecoin ngalamin hal yang sama.
Kenapa bisa gitu? Ekosistem stablecoin udah nyebar ke banyak chain berbeda. USDC di Ethereum, USDT di Tron, DAI di mana-mana. Masing-masing punya liquidity pool sendiri-sendiri.
Buat retail user transfer $100, nggak kerasa masalah. Tapi institusi yang move $10 juta? Harus pikirin slippage, bridge risk, dan settlement time. Kompleksitasnya naik drastis.
Saxe bilang ini ironis. Stablecoin diciptain buat simplify payment, tapi skalanya malah recreate problem yang sama kayak sistem tradisional.
Yang bikin beda: di crypto, kamu nggak punya prime broker yang handle execution smartly. Harus DIY semua, atau bayar premium ke specialized market makers.
Practical takeaway buat kamu: kalau sering transfer stablecoin dalam jumlah besar, pertimbangkan pakai aggregator kayak LI.FI atau Socket. Mereka otomatis cariin route paling efisien antar chain.
Atau kalau hold institusional, mulai lirik prime brokerage crypto yang emerging. Jangan asal bridge langsung—hitung dulu total cost termasuk waktu dan risk.
Intinya: stablecoin masih useful, tapi jangan anggap semua transfer itu equal. Size matters, dan fragmented liquidity itu real problem yang perlu strategi.
Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
CoinTelegraph
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Crypto update dari CoinTelegraph.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinTelegraph.
Baca artikel asli di CoinTelegraph→


