Robert Kiyosaki merekomendasikan Bitcoin dan emas sebagai aset safe haven. Simak alasannya dan apa yang bisa kamu pelajari untuk diversifikasi portofolio.

Robert Kiyosaki, penulis buku fenomenal Rich Dad Poor Dad, lagi-lagi menegaskan pendiriannya soal Bitcoin, emas, dan perak. Dia melihat ketiga aset ini sebagai pelindung nilai saat sistem keuangan konvensional mulai goyah.

Bagi kamu yang belum baca bukunya, Kiyosaki terkenal karena kritiknya terhadap sekolah yang nggak ngajarin soal uang. Dia selalu menekankan pentingnya financial literacy dan memiliki aset nyata.

Kali ini, Kiyosaki mengaitkan rekomendasinya dengan peristiwa tahun 1974. Saat itu, Amerika Serikat mengalami perubahan besar dalam sistem moneternya.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Dia bilang kita sekarang berada di titik balik serupa. Perubahan struktural yang sama sedang terjadi, dan kali ini Bitcoin ikut masuk dalam percakapan.

Emas dan perak memang sudah lama jadi safe haven klasik. Tapi Bitcoin? Baru belakangan ini dianggap serius oleh investor institusional.

Kiyosaki nggak sendirian. Banyak investor ternama mulai mengalokasikan sebagian portofolio mereka ke cryptocurrency. Bukan sebagai spekulasi semata, tapi sebagai hedge terhadap inflasi.

Yang menarik, Kiyosaki sering bilang dia nggak terlalu paham teknologi di balik Bitcoin. Tapi dia paham satu hal: supply Bitcoin terbatas.

Cuma ada 21 juta Bitcoin yang bisa ditambang. Sementara pemerintah bisa print uang kapan aja mereka mau. Perbedaan fundamental ini yang bikin Kiyosaki optimis.

Dia juga sering warning soal bubble di pasar saham dan obligasi. Menurutnya, aset-aset tradisional sudah terlalu dipompa oleh kebijakan moneter longgar.

Kalau bubble itu pecah, yang punya aset nyata atau scarce asset bakal lebih aman. Itu sebabnya dia terus akumulasi emas, perak, dan Bitcoin.

Tapi perlu diingat, Kiyosaki bukan tipe yang bilang all-in ke satu aset. Dia selalu tekankan diversifikasi. Jangan taruh semua telur di satu keranjang.

Untuk kamu yang baru mulai investasi, pendekatan ini bisa jadi referensi. Nggak perlu langsung beli Bitcoin dalam jumlah besar. Mulai dari yang kecil, pelajari dulu.

Yang penting adalah memahami kenapa kamu membeli suatu aset. Apakah untuk trading jangka pendek, atau menyimpan nilai jangka panjang?

Kiyosaki jelas di kubik yang kedua. Dia beli Bitcoin bukan untuk jual besok atau minggu depan. Tapi untuk bertahan dari kemungkinan krisis keuangan global.

Apakah prediksinya bakal benar? Nggak ada yang tahu pasti. Tapi sejarah menunjukkan sistem moneter memang berubah-ubah. Dari standar emas, ke fiat money, dan mungkin ke era digital.

Yang bisa kamu lakukan sekarang: evaluasi portofoliomu. Berapa persen yang masih dalam bentuk cash atau tabungan? Berapa yang sudah di aset produktif atau scarce asset?

Kalau semuanya masih di satu jenis aset, mungkin ini saatnya mulai diversifikasi. Nggak harus langsung ke Bitcoin, bisa mulai dari reksa dana emas atau ETF.

Poin utamanya adalah proteksi. Seperti yang selalu Kiyosaki tekankan: jadilah investor yang cerdas, bukan penjudi yang berharap untung besar dalam semalam.

Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

CoinTelegraph

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Crypto update dari CoinTelegraph.

Sumber asli

Artikel ini direwrite dari sumber CoinTelegraph. Kamu bisa cek versi aslinya di https://cointelegraph.com/news/robert-kiyosaki-1974-shift-bitcoin-gold-real-money?utm_source=rss_feed&utm_medium=rss&utm_campaign=rss_partner_inbound.

#Crypto#CoinTelegraph#rss