Perusahaan gas Inggris Reabold Resources rencana mining Bitcoin pakai ladang gas besar. Tapi dapat kritik soal emisi karbon dan prioritas energi.
Reabold Resources, perusahaan gas asal Inggris, baru-baru ini bikin heboh. Mereka punya ladang gas di Yorkshire yang katanya besar banget—bisa dipakai mining sampai 50.000 BTC kalau dihitung-hitung teori.
Tapi bukannya langsung gaspol, mereka bilang bakal coba-coba dulu. Rencananya: test bitcoin mining dulu, baru kemudian pivot ke data center.
Langkah ini langsung dapet sorotan tajam dari berbagai pihak. Banyak yang kritik soal penggunaan sumber daya fosil buat aktivitas yang konsumsi energinya tinggi banget.
Bitcoin mining memang terkenal 'rakus' listrik. Network Bitcoin globally udah makan energi setara negara kecil, dan sebagian besar masih dari bahan bakar fosil.
Reabold bilang mereka cuma mau 'manfaatin' gas yang otherwise bakal dibakar sia-sia (flaring). Argumennya: lebih baik dipakai mining daripada cuma dibuang begitu aja.
Tapi kritikus gak terima argumen itu. Buat mereka, flaring reduction harusnya lewat investasi infrastruktur proper, bukan malah ditambahin beban konsumsi energi baru.
Ada juga yang nanya: kenapa gak langsung ke data center aja? Kenapa harus lewat bitcoin mining dulu?
Jawaban Reabold sederhana: bitcoin mining lebih fleksibel. Modalnya lebih kecil, setup lebih cepat, dan bisa jadi 'pemanas' sambil nunggu data center beneran jadi.
Dari sisi bisnis, ini masuk akal sih. Bitcoin mining bisa jadi cash flow cepat buat perusahaan yang lagi struggling. Harga BTC naik turun, tapi potensi profit tetap menggiurkan.
Tapi masalahnya bukan cuma soal profit. Isu utama adalah carbon footprint. Inggris lagi target net-zero 2050, dan aktivitas kayak gini dianggap kontraproduktif.
Beberapa analis energy market bilang ini cont klasik 'greenwashing'. Perusahaan fosil nyari cara tetap relevan dengan label 'inovatif' dan 'teknologi'.
Padahal alternatifnya ada. Renewable energy buat data center udah makin mature. Solar dan wind di UK makin kompetitif harganya.
Reabold sebenernya bisa pilih jalan itu dari awal. Tapi mungkin timeline-nya lebih panjang, dan butuh modal lebih gede di depan.
Nah, ini dilema yang sering muncul di transisi energi. Short-term profit vs long-term sustainability. Dan seringnya, yang menang yang pertama.
Buat kamu yang investor atau cuma penasaran sama crypto, ini reminder penting. Not every bitcoin mining news itu positif, meski angkanya gede (50.000 BTC!).
Cek dulu sumber energinya. Kalau masih fosil, itu bukan progress—itu cuma repackaging masalah lama.
Practical takeaway: Kalau kamu invest di crypto atau reksadana yang pegang saham perusahaan mining, cek ESG report-nya. Lihat dari mana energinya. Mining 'bersih' itu yang pakai renewable, bukan yang cuma bilang 'lebih baik daripada flaring'.
Dan buat yang di Indonesia, pelajaran serupa berlaku. Kita punya potensi renewable energy besar—geothermal, solar, hydro. Jangan sampai mining crypto malah bikin kita tambah bergantung ke batu bara.
Reabold bakal tetap jalanin rencana mereka? Kemungkinan besar iya. Tapi tekanan publik dan regulator bakal makin ketat.
Yang pasti, perdebatan soal bitcoin dan energi bakal terus panas. Dan perusahaan kayak Reabold bakal jadi contoh—baik atau buruk—buat yang lain.
Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
CoinDesk
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Crypto update dari CoinDesk.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinDesk.
Baca artikel asli di CoinDesk→


