Psikolog temukan pasien pakai AI dalam terapi, potensi manfaat & bahaya delusi. Simak insightnya di sini!

Kamu pasti pernah denger AI kayak ChatGPT yang bisa ngobrol apa aja, kan? Ternyata, sekarang AI udah masuk ke ruang terapi. Sebuah survei terbaru dari APA (American Psychological Association) ngasih data menarik: lebih dari 35% psikolog melaporkan ada pasien yang pakai AI sebagai “teman ngobrol” tambahan.

Pasien biasanya pakai AI buat curhat, dapet saran cepat, atau sekadar nyari penjelasan tentang perasaan mereka. Mereka ngerasa AI itu non‑judgmental, jadi gampang buat buka diri. Tapi, psikolog juga ngasih peringatan: AI bisa aja malah memperkuat delusi atau pikiran negatif kalau modelnya nggak tepat.

Kenapa AI jadi pilihan? Soalnya, AI tersedia 24/7, nggak perlu janji temu, dan harganya jauh lebih murah dibanding terapis manusia. Bagi orang yang tinggal di daerah terpencil atau yang takut stigma, AI jadi solusi praktis. Tapi, ingat, AI itu bukan pengganti terapis—cuma pelengkap.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Salah satu psikolog yang disurvei bilang, "Pasien kadang tanya AI soal cara mengatasi kecemasan, dan AI kasih saran yang terdengar logis, tapi nggak selalu sesuai konteks pribadi mereka." Ini bikin risiko muncul: AI bisa nyebarin informasi yang keliru atau malah menegaskan pola pikir yang nggak sehat.

Ada juga kasus di mana AI memperkuat delusi. Misalnya, pasien dengan skizofrenia yang percaya AI itu 'suara' yang memberi petunjuk. Kalau AI memberi respons yang menguatkan kepercayaan itu, delusi bisa makin parah. Karena AI belajar dari data manusia, ia nggak bisa bedain mana fakta sama khayalan.

Untuk mengurangi risiko, psikolog menyarankan beberapa langkah praktis: pertama, tetap konsultasi rutin dengan terapis manusia. Kedua, gunakan AI yang memang dirancang khusus untuk kesehatan mental, bukan chatbot umum. Ketiga, periksa kredibilitas sumber AI—pastikan ada review klinis atau sertifikasi.

Praktik terbaik lain: terapis bisa mengintegrasikan AI ke dalam sesi terapi, misalnya dengan menugaskan pasien menuliskan percakapan mereka dengan AI sebagai bahan diskusi. Dengan begitu, terapis bisa memantau apa yang terjadi di “ruang obrolan” digital dan mengoreksi mis‑interpretasi.

Intinya, AI di terapi itu kayak pisau bermata dua. Di satu sisi, ia ngasih akses cepat, murah, dan anonim. Di sisi lain, tanpa pengawasan, ia bisa menambah kebingungan atau malah memperkuat halusinasi. Jadi, gunakan AI dengan bijak, dan jangan lupakan peran penting terapis manusia.

Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

Decrypt

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Crypto update dari Decrypt.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Decrypt.

Baca artikel asli di Decrypt
#Crypto#Decrypt#rss