Cato Institute menyarankan AS menghapus pajak capital gains crypto untuk meningkatkan daya saing dan memungkinkan cryptocurrency digunakan sebagai mata uang fungsional.

Bayangin deh, kamu beli kopi pakai Bitcoin dan tiba-tiba harus lapor pajak. Sounds crazy, right? Tapi itulah realita yang dialami pengguna crypto di Amerika Serikat saat ini.

Setiap transaksi crypto dianggap sebagai taxable event. Kamu harus hitung capital gains—selisih harga beli dan jual—lalu lapor ke IRS. Prosesnya ribet banget, apalagi kalau kamu transaksi harian.

Cato Institute, think tank libertarian dari Washington DC, baru-baru ini mengusulkan solusi radikal: hapus aja pajak capital gains untuk cryptocurrency.

Advertisement

Menurut mereka, aturan pajak yang ada sekarang justru membunuh fungsi utama crypto sebagai medium of exchange. Crypto jadi lebih mirip aset investasi yang disimpan, bukan alat pembayaran yang dipakai sehari-hari.

Logikanya sederhana. Kalau setiap pembelian kecil harus dilacak dan dilaporkan, siapa yang mau repot pakai crypto untuk bayar tagihan atau belanja groceries?

Cato berargumen bahwa perlakuan pajak ini membuat AS ketinggalan dari negara lain. Beberapa yurisdiksi sudah lebih progresif dalam regulasi crypto, dan talenta serta inovasi mulai bermigrasi ke sana.

Kompetisi global di sektor fintech makin ketat. Kalau AS mau tetap jadi pusat inovasi keuangan, regulasi harus adaptif, bukan menghambat.

Tapi ada sisi lain yang perlu dipertimbangkan. Pajak capital gains adalah sumber pendapatan signifikan bagi pemerintah. Menghapusnya berarti ada trade-off fiskal yang harus dihitung ulang.

Cato menanggapi ini dengan menyarankan alternatif revenue, misalnya pajak konsumsi atau carbon tax. Intinya, sistem pajak harus efisien dan tidak menghalangi inovasi teknologi.

Nah, takeaway praktisnya apa buat kamu yang di Indonesia? Meski regulasi berbeda, pola pikirnya relevan.

Pertama, pahami tax treatment crypto di negara tempat kamu beroperasi. Di Indonesia, crypto dianggap sebagai aset komoditas, bukan mata uang, dengan aturan pajak tersendiri.

Kedua, dokumentasikan setiap transaksi kamu. Gunakan portfolio tracker atau software accounting yang support crypto. Jangan sampai tax season jadi mimpi buruk karena data berantakan.

Ketiga, ikuti perkembangan regulasi global. Kebijakan di AS, Eropa, atau Singapura sering jadi benchmark. Memahami trend internasional bantu kamu anticipate perubahan di rumah sendiri.

Terakhir, kalau kamu builder atau founder, pertimbangkan jurisdiction arbitrage. Beberapa negara memang lebih crypto-friendly untuk operasional bisnis.

Diskusi soal pajak crypto ini sebenarnya tentang visi jangka panjang: apakah cryptocurrency cuma aset spekulatif, atau bisa jadi infrastruktur keuangan yang benar-benar fungsional? Pilihan kebijakan hari ini akan menentukan jawabannya.

Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

CoinTelegraph

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Crypto update dari CoinTelegraph.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinTelegraph.

Baca artikel asli di CoinTelegraph
#Crypto#CoinTelegraph#rss