Flow Capital tokenisasi dana private credit $150M via DigiFT. Tapi tokenisasi nggak otomatis bikin aset illiquid jadi liquid, kata para eksekutif crypto.

Flow Capital punya rencana besar: mereka mau tokenisasi private credit fund senilai $150 juta.

Rencananya kerja sama dengan DigiFT, platform tokenisasi aset dari Singapura.

Tujuannya sederhana: raising additional capital dengan cara yang lebih modern.

Advertisement

Tapi sebelum kamu mikir ini solusi ajaib, ada yang perlu diingat.

Para eksekutif crypto langsung kasih warning: tokenisasi itu bukan magic wand.

Just because you tokenize something, doesn't mean it suddenly becomes liquid.

Ini penting banget dipahami, especially buat yang baru explore Real World Assets (RWA).

Private credit fund memang notoriously illiquid by nature.

Investor biasanya lock up capitalnya bertahun-tahun.

Tokenisasi bisa bikin ownership-nya fractional dan transferable on-chain.

Tapi liquidity-nya? Itu masalah yang beda lagi.

Liquidity butuh buyer dan seller yang aktif di pasar.

Kalau underlying asset-nya sendiri susah dijual, tokennya juga akan struggle.

Bayangin kamu punya token yang representasi tanah di pedalaman.

Teorinya kamu bisa jual tokennya kapan aja.

Praktiknya? Buyer-nya susah dicari, unless ada market maker yang serius.

Ini yang sering missed oleh hype RWA belakangan ini.

Tokenisasi solve masalah settlement dan ownership transparency.

Tapi liquidity premium nggak datang otomatis.

Flow Capital pilih DigiFT karena platform ini regulated di Singapore.

Mereka fokus pada compliance-first approach, which is smart.

Institutional investors care so much about regulatory clarity.

DigiFT juga punya track record tokenisasi berbagai jenis aset.

Dari bonds sampai money market funds.

Tapi private credit beda level kompleksitasnya.

Valuation-nya nggak straightforward kayak bond.

Default risk juga lebih tricky untuk model.

Jadi kalau kamu investor yang tertarik sama tokenized private credit, due diligence-nya harus extra hati-hati.

Jangan cuma lihat 'yield' yang ditawarkan.

Tanya juga: siapa borrower-nya? Bagaimana collateral structure-nya?

Platform tokenisasi yang bagus mana? Yang transparent soal ini semua.

Practical takeaway dari kasus ini: tokenisasi itu tool, bukan transformation.

Tool yang powerful, tapi tetap butuh fundamentals yang solid.

Kalau underlying business atau credit quality-nya jelek, tokenisasi nggak bakal save it.

Sebaliknya, kalau asetnya bagus, tokenisasi bisa unlock value yang previously inaccessible.

Buat retail investor, ini bisa jadi opportunity dan risk sekaligus.

Access ke private credit yang dulu cuma untuk institutional investors, sekali bisa diakses via token.

Tapi dengan access comes responsibility untuk pahami risk-nya.

Jangan invest based on FOMO atau karena 'tokenized' kedengaran canggih.

Do your own research, understand the liquidity constraints, and size your position accordingly.

Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

CoinTelegraph

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Crypto update dari CoinTelegraph.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinTelegraph.

Baca artikel asli di CoinTelegraph
#Crypto#CoinTelegraph#rss