Politisi New York usulkan 'AI dividend' untuk mengatasi kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi. Simak cara kerja dan pro kontra ide kontroversial ini.

Bayangin deh, kamu bangun pagi dan tiba-tiba robot udah ngambil alih kerjaanmu. Bukan cuma kamu, tapi jutaan orang lain juga. Panik? Pasti. Tapi ada politisi di New York yang punya ide cukup unik: kenapa nggak dibayar aja dari untung AI-nya?

Namanya AI dividend. Konsepnya simpel. Kalau perusahaan AI makin kaya karena otomatisasi, ya warga negara juga harus dapat bagian. Bukan cuma para CEO dan investor yang ketawa lebar.

Cara kerjanya? Pajak dari penggunaan AI ditambah saham di perusahaan-perusahaan AI. Duit itu masuk ke dana khusus, terus dibagi ke warga kalau otomatisasi beneran bikin banyak orang nganggur. Mirip-mirip konsep universal basic income, tapi sumber dananya spesifik dari AI.

Advertisement

Ide ini muncul bukan tanpa alasan. Prediksi soal AI yang rebut pekerjaan udah bukan hal baru. McKinsey bilang ratusan juta pekerjaan global berisiko tergantikan dalam dekade ini. Yang jadi masalah: siapa yang tanggung jawab?

Politisi ini bilang, perusahaan AI harus bayar 'pajak sosial'. Mereka untung besar dari efisiensi, tapi masyarakat yang nanggung beban pengangguran massal. Nggak adil kan?

Tapi tentu ada yang pro dan kontra. Yang setuju bilang ini cara realistis menghadapi disrupsi teknologi. Daripada melarang AI, mending arahkan keuntungannya buat semua orang. Seperti Alaska yang bagi-bagi duit dari minyak ke warganya tiap tahun.

Yang skeptis bilang, implementasinya rumit banget. Apa yang dihitung 'penggunaan AI'? ChatGPT doang atau semua software pakai machine learning? Terus gimana nilai saham perusahaan startup yang belum IPO?

Ada juga yang khawatir pajak AI malah bikin inovasi melambat. Kalau perusahaan dipajak berat, mereka bisa pindah negara atau kurang investasi riset. Akhirnya yang rugi justru kemajuan teknologi itu sendiri.

Lalu soal definisi 'penggusuran pekerjaan yang bermakna'. Berapa persen pengangguran yang dianggap 'cukup parah' buat mulai bagi dividen? Siapa yang tentuin? Politisi? Ahli ekonomi? Ini bisa jadi debat politik yang nggak ada habisnya.

Yang menarik, ide ini bukan pertama kali muncul. Ekonom ternama kayak Erik Brynjolfsson udah pernah usulkan 'robot tax' sejak 2017. Bedanya, AI dividend ini lebih spesifik soal mekanisme pembiayaan dan pembagiannya.

Praktik takeaway buat kamu: meski ini masih usulan di level negara, konsepnya bisa kamu adaptasi. Kalau kamu kerja di bidang yang berisiko tergantikan AI, mulai diversifikasi skill sekarang. Jangan nunggu ada bantuan pemerintah.

Selain itu, pahami bahwa regulasi AI bakal makin kompleks. Yang sekarang cuma etika dan copyright, besok bisa soal pajak dan redistribusi kekayaan. Buat yang invest di startup AI, perhatikan risiko regulatory ini.

Apakah AI dividend bakal jadi kenyataan? Di Amerika sih masih jauh. Tapi diskusinya sendiri udah penting. Kita harus mulai mikir: siapa yang punya AI, siapa yang rugi, dan gimana cara adil bagi hasilnya.

Teknologi maju cepat. Regulasi biasanya lambat. Celah di antaranya itu yang bikin ada yang super kaya dan ada yang kena PHK massal. AI dividend mungkin bukan jawaban sempurna, tapi setidaknya orang mulai cari solusi.

Yang pasti, masa depan kerja bakal beda banget. Siap-siap aja.

Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

CoinTelegraph

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Crypto update dari CoinTelegraph.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinTelegraph.

Baca artikel asli di CoinTelegraph
#Crypto#CoinTelegraph#rss