Bitcoin jatuh ke $75K akibat konflik Iran-AS dan penutupan Selat Hormuz. Simak dampaknya ke pasar crypto dan strategi yang bisa kamu terapkan.

Bitcoin baru-baru ini mengalami tekanan berat. Harganya sempat turun ke level $75.000 setelah berita tentang eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran muncul ke permukaan.

Penutupan Selat Hormuz jadi sorotan utama. Selat ini adalah jalur vital untuk pengiriman minyak global, jadi ketika ditutup, dampaknya langsung terasa ke seluruh pasar keuangan dunia.

Kamu mungkin bertanya-tanya, kenapa Bitcoin ikut terjun bebas? Padahal seharusnya aset crypto ini nggak terkait langsung sama minyak. Jawabannya ada di perilaku investor.

Advertisement

Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, investor cenderung mencari safe haven. Mereka keluar dari aset berisiko tinggi seperti Bitcoin dan beralih ke emas, dolar AS, atau obligasi pemerintah.

Volatilitas Bitcoin memang bukan hal baru. Tapi yang bikin kali ini berbeda adalah skala ketegangannya. Konflik militer antar negara besar punya potensi mengganggu stabilitas ekonomi global dalam jangka panjang.

Data dari berbagai exchange menunjukkan volume jual meningkat signifikan. Banyak trader retail dan institusional yang memutuskan untuk cut loss atau mengambil profit lebih awal daripada biasanya.

Dari sisi teknis, level $75.000 ini penting. Ini adalah support kuat yang sebelumnya sudah diuji beberapa kali. Jika jebol, ada kemungkinan koreksi lebih dalam ke zona $70.000 atau bahkan lebih rendah.

Tapi jangan panik dulu. Historisnya, Bitcoin sering pulih setelah gejolak geopolitik mereda. Yang penting kamu paham posisi kamu sendiri dan punya rencana yang jelas.

Perlu diingat, korelasi Bitcoin dengan pasar saham makin kuat belakangan ini. Ketika S&P 500 dan Nasdaq tertekan, Bitcoin biasanya ikut tertekan juga. Fenomena ini berbeda dari narasi "digital gold" yang sering didengungkan.

Minyak sendiri mengalami spike harga yang signifikan. Ketika biaya energi naik, biaya produksi berbagai barang dan jasa ikut naik. Ini bisa memicu inflasi dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Suku bunga tinggi itu berarti biaya pinjaman mahal. Startup dan perusahaan teknologi, termasuk yang berkaitan dengan blockchain, jadi kesulitan mengakses modal. Efek berantainya bisa sampai ke sentimen investor crypto.

Jadi apa yang bisa kamu lakukan sekarang? Pertama, evaluasi ulang portofolio kamu. Pastikan kamu nggak over-leverage atau pakai uang yang seharusnya untuk kebutuhan mendesak.

Kedua, pertimbangkan strategi dollar-cost averaging. Daripada coba nebak bottom, lebih baik beli sedikit-sedikit secara rutin. Cara ini mengurangi risiko timing yang salah.

Ketiga, perbanyak riset tentang fundamental. Proyek crypto dengan utility nyala dan tim kuat biasanya lebih tahan banting saat bear market. Hindari spekulasi di meme coin tanpa dasar yang jelas.

Keempat, pantau perkembangan geopolitik tapi jangan obsesi. Berita 24/7 bisa bikin kamu overtrade atau ambil keputusan emosional. Tetapkan waktu khusus untuk cek update, jangan terus-menerus.

Terakhir, ingat bahwa koreksi adalah bagian normal dari siklus pasar. Bitcoin sudah mengalami penurunan lebih dari 50% berkali-kali sebelumnya dan selalu bangkit kembali. Yang penting kamu tetap survive sampai bull market berikutnya.

Situasi sekarang memang nggak nyaman. Tapi buat kamu yang sudah lama di crypto, ini mungkin terasa familiar. Yang terpenting adalah tetap tenang, punya plan, dan jangan buat keputusan impulsif berdasarkan fear atau greed.

Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

CoinTelegraph

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Crypto update dari CoinTelegraph.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinTelegraph.

Baca artikel asli di CoinTelegraph
#Crypto#CoinTelegraph#rss