Bank-bank besar di AS masih wait-and-see soal stablecoin karena risiko deposit, regulasi yang berubah, dan persaingan baru. Simak alasannya.

Stablecoin lagi naik daun, tapi jangan kaget kalau bank-bank besar di AS masih ogah-ogahan buat ikutan. Menurut laporan terbaru dari S&P Global, sebagian besar lender di sana masih dalam mode 'tunggu dan lihat'.

Mereka nggak buru-buru, meski pasar stablecoin terus tumbuh pesat. Ada beberapa alasan yang bikin bank-bank ini hati-hati banget.

Pertama, risiko deposit. Bank khawatir kalau stablecoin bisa menggerus dana nasabah mereka. Bayangin aja, kalau orang lebih milih nyimpen duit dalam bentuk stablecoin daripada rekening bank, deposit bank bisa berkurang.

Advertisement

Ini bukan cuma teori. Beberapa bank sudah mulai ngerasain tekanan dari outflow deposit ke produk-produk yield yang lebih menarik, termasuk yang berbasis crypto.

Kedua, regulasi yang masih labil. Aturan soal stablecoin di AS masih berubah-ubah dan belum jelas. Bank nggak mau investasi besar-besaran, terus tiba-tiba regulasinya berubah dan mereka harus balik kanan.

FDA (Federal Deposit Insurance Corporation) dan regulator lainnya masih sibuk diskusi gimana cara mengawasi stablecoin yang di-back oleh bank. Sampai aturannya final, bank-bank besar lebih milih aman-aman aja.

Ketiga, persaingan baru yang makin ketat. Fintech dan platform crypto native udah duluan bergerak. Mereka lebih gesit dan nggak terbebani legacy system kayak bank tradisional.

Buat bank, bersaing sama player-player ini butuh transformasi yang nggak murah dan nggak cepat. Mereka harus upgrade infrastruktur, rekrut talent baru, dan ubah culture yang udah puluhan tahun berjalan.

Tapi ini bukan berarti bank completely ignore stablecoin. Beberapa bank regional dan yang lebih kecil justru mulai eksplorasi. Mereka lihat ini sebagai opportunity buat differentiate diri dari bank-bank besar yang lamban.

Ada juga bank yang fokus pada institutional clients dulu. Mereka nyediakan custody dan settlement service buat stablecoin, tapi nggak langsung terjun ke retail market.

Strategi ini lebih aman karena institutional clients punya compliance framework yang lebih matang. Risiko reputational dan legal lebih kecil dibanding serve retail customers.

S&P Global nge-highlight kalau perbedaan approach antar bank bakal makin kelihatan dalam 1-2 tahun ke depan. Yang cepat adaptasi bakal dapet first-mover advantage.

Yang lambat? Mereka mungkin ketinggalan atau harus akuisisi fintech buat catch up. Harganya pasti lebih mahal.

Buat kamu yang ngikutin perkembangan crypto, ini signal penting. Adopsi stablecoin dari institusi tradisional masih dalam tahap awal, tapi momentumnya ada.

Kalau regulasi akhirnya clear dan favorable, bisa jadi floodgate terbuka. Bank-bank bakal rush masuk dengan product dan service mereka.

Tapi sampai saat itu, expect more of the same: bank besar nunggu di pinggir, sambil fintech dan crypto native terus innovate dan capture market share.

Practical takeaway buat kamu: jangan expect bank lokal kamu langsung support stablecoin dalam waktu dekat. Kalau butuh layanan stablecoin, fintech dan exchange crypto masih pilihan paling realistis.

Tapi keep an eye on regulatory development. Perubahan kecil di aturan bisa bikin bank-bank besar berubah pikiran dengan cepat. Timing itu everything di pasar ini.

Crypto lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

CoinDesk

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Crypto update dari CoinDesk.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinDesk.

Baca artikel asli di CoinDesk
#Crypto#CoinDesk#rss