Stanley pakai AI di belakang layar, tapi tetap jaga iklan supaya manusiawi. Penasaran kenapa? Baca selengkapnya!

Jadi, kamu tahu kan brand Stanley yang terkenal itu? Mereka udah ada sejak 1913 dan sekarang lagi ngebahas soal AI. Tapi uniknya, meskipun mereka udah pakai AI di balik layar, Stanley bilang kalau iklan yang dilihat konsumen tetap harus dikerjakan oleh manusia. Ini bikin penasaran, kenapa ya mereka milih gitu?

Kate Ridley, chief brand officer Stanley, bilang kalau mereka belum pernah pakai AI untuk bikin konten yang langsung dilihat konsumen. Mereka pengen tetap menjaga sentuhan manusia dalam iklan mereka, soalnya banyak brand lain udah mulai mengandalkan AI untuk segala hal, mulai dari beli media sampai produksi kreatif. Tapi, apa sih yang bikin Stanley beda?

Satu hal yang jadi pertanyaan besar di industri adalah, seberapa banyak proses pembuatan iklan yang bisa diserahkan ke mesin sebelum hasilnya nggak terasa manusiawi lagi? Nah, Stanley udah ambil sikap tegas: AI boleh di mana-mana, kecuali di bagian yang dilihat konsumen. Ini jadi langkah yang cukup berani, apalagi di tengah hype AI yang lagi tinggi-tingginya.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Banyak brand lain mungkin udah lebih jauh dalam memanfaatkan AI, bahkan sampai ke iklan yang ditampilkan. Tapi Stanley pengen tetap jaga kualitas dan keaslian dari iklan mereka. Mereka percaya kalau iklan yang bagus itu butuh sentuhan manusia, dan itu yang bikin iklan mereka bisa connect dengan konsumen.

Jadi, kalau kamu lagi mikir tentang penggunaan AI dalam iklan, mungkin bisa jadi inspirasi dari Stanley. Mereka tunjukin bahwa teknologi itu penting, tapi jangan sampai mengorbankan sisi manusiawi dari sebuah brand. Ini jadi pelajaran berharga buat brand lain yang mau ikutan tren AI tanpa kehilangan identitas mereka.

Business: Marketing Tips lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

Digiday

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Business: Marketing Tips update dari Digiday.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Digiday.

Baca artikel asli di Digiday
#BusinessMarketingTips#Digiday#rss