Pelajari strategi Nestlé memanfaatkan teknologi CreatorIQ dan CreativeX untuk mengubah konten kreator menjadi iklan berkualitas secara efisien tanpa khawatir soal brand safety.

Kerja sama dengan influencer atau kreator konten memang lagi ngehits di kalangan brand CPG kayak Nestlé. Tapi pernah nggak kamu mikir gimana caranya perusahaan besar ini memastikan setiap konten itu aman buat dijadiin iklan resmi? Soalnya, nggak semua konten organic bisa langsung dipakai sebagai paid media tanpa screening dulu.

Nah, Nestlé baru-baru ini deploy solusi canggih dari CreatorIQ dan CreativeX. Mereka pakai tool baru yang bisa identify dan score konten dari kreator secara otomatis. Jadi, tim marketing nggak perlu cek manual satu per satu postingan yang jumlahnya bisa ratusan atau ribuan.

Bayangin aja kerjaannya kalau harus review konten manual. Repot banget, kan? Dengan tool ini, sistem bisa scanning ribuan konten creator dalam waktu singkat. Terus, AI-nya bakal kasih score berdasarkan brand suitability metrics yang sudah di-set sebelumnya.

Advertisement

Artinya, konten yang lolos scoring baru deh yang diubah jadi paid ads. Yang nggak lolos ya disimpan aja sebagai organic content, nggak di-promote pakai budget iklan. Cara ini bikin proses curasi jadi lebih efisien dan nggak ada yang lolos dari filter.

Kenapa ini penting banget buat scale? Soalnya, kalau kamu cuma kerja sama 5 influencer, manual checking masih oke-oke aja. Tapi Nestlé mainnya di level global dengan ribuan creator di berbagai platform. Tanpa automation, pasti ada konten yang lolos dan malah berpotensi damage brand image.

CreativeX ini sebenarnya platform yang fokus ke creative analytics. Mereka bisa mengukur kualitas visual, messaging consistency, dan brand alignment dari setiap konten. Sedangkan CreatorIQ adalah influencer marketing platform yang punya database besar soal creator performance dan audience demographics.

Kombinasi keduanya bikin workflow jadi seamless. Tim Nestlé bisa lihat mana konten yang engagement-nya tinggi tapi juga sesuai sama brand guideline. Nggak cuma viral, tapi juga proper, safe, dan on-brand.

Sistem scoring-nya biasanya ngecek beberapa hal penting. Mulai dari visual aesthetic, tone of voice, sampai apakah ada elemen yang bisa dianggap sensitive atau kontroversial. Semua ini diukur objectively pake data, nggak cuma feeling tim marketing aja.

Untuk kamu yang kerja di digital marketing atau brand management, ini bisa jadi insight berharga. Jangan asal repurpose konten creator tanpa filter. Butuh sistem yang bisa ensure brand safety sebelum budget paid media keluar dan nempel di konten tersebut.

Practical takeaway-nya sederhana tapi powerful: mulai dengan establish clear criteria tentang apa yang boleh dan nggak boleh jadi paid ads. Terus, cari tools atau minimal bikin SOP manual buat screening konten secara konsisten. Jangan sampai konten yang bagus tapi kontroversial malah jadi iklan berbayar kamu.

Juga, penting buat educate creators kamu dari awal. Kasih brief yang jelas soal brand values dan content guidelines. Makin aligned creator sama brand kamu dari sana awal, makin tinggi juga kemungkinan kontennya lolos jadi paid media nantinya.

Intinya, era digital marketing sekarang udah nggak cuma soal finding the right creator dengan reach yang gede. Tapi juga soal how to scale content safely dan efficiently. Nestlé nunjukin bahwa dengan tech stack yang tepat, kamu bisa maximize ROI dari creator partnership tanpa sacrificing brand safety sama sekali.

Business: Marketing Tips lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

Marketing Dive

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Business: Marketing Tips update dari Marketing Dive.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Marketing Dive.

Baca artikel asli di Marketing Dive
#BusinessMarketingTips#MarketingDive#rss