NASA mematikan salah satu instrumen di Voyager 1 untuk menghemat daya. Ini strategi bertahan hidup pesawat ruang angkasa tertua yang masih aktif.
Bayangin punya gadget yang kamu pakai terus-menerus selama 47 tahun. Bukan cuma itu, gadget ini juga harus kerja di tempat yang super dingin, gelap, dan jauh banget dari bantuan teknisi apa pun.
Itulah kondisi Voyager 1 saat ini. Pesawat ruang angkasa ini diluncurkan tahun 1977, dan sekarang sudah berada di interstellar space—wilayah di antara bintang-bintang. Jaraknya dari Bumi? Lebih dari 24 miliar kilometer.
Tapi baterai Voyager 1 makin menipis. Plutonium-238 yang jadi sumber dayanya menghasilkan listrik lebih sedikit setiap tahunnya. NASA harus pintar-pintar mengatur konsumsi energi kalau mau pesawat ini tetap berfungsi.
Solusinya? Matikan instrumen yang masih bisa dikorbankan. Tim mission control di Jet Propulsion Laboratory (JPL) baru-baru ini memutuskan untuk mematikan Cosmic Ray Subsystem (CRS).
CRS ini sebenarnya instrumen penting. Dia yang mengukur radiasi kosmik dan membantu ilmuwan memahami lingkungan interstellar. Tapi sayangnya, CRS juga termasuk yang paling boros daya.
Dengan mematikan CRS, NASA bisa mengalokasikan sisa energi ke sistem yang lebih kritis. Termasuk komunikasi radio yang jadi satu-satunya jalur hubungan Voyager 1 dengan Bumi.
Proses pematian ini nggak instan. Tim JPL harus kirim perintah ke pesawat, terus tunggu sinyal balasan selama lebih dari 22 jam. Kenapa lama banget? Karena sinyal butuh waktu buat menempuh jarak 24 miliar kilometer itu.
Ini bukan pertama kalinya NASA matikan instrumen di Voyager. Sebelumnya, tim juga sudah nonaktifkan beberapa sistem demi efisiensi energi. Strateginya mirip mode power saving di HP kamu, cuma levelnya jauh lebih ekstrem.
Voyager 1 sebenarnya punya saudara kembar: Voyager 2. Keduanya diluncurkan dengan misi yang mirip, tapi jalur terbangnya beda. Voyager 2 juga masih aktif, meski kondisinya sedikit lebih baik soal cadangan daya.
Target NASA sekarang sederhana: pertahankan operasi minimal sampai tahun 2030-an. Kalau beruntung, mungkin bisa lebih lama lagi. Tapi pada akhirnya, plutonium akan habis dan kedua Voyager akan jadi objek mati yang meluncur di luar angkasa.
Meski begitu, kontribusi Voyager 1 sudah luar biasa. Dia pesawat pertama yang masuk interstellar space, dan data yang dikirim selama dekade-dekade terakhir mengubah pemahaman kita tentang tata surya.
Ada pelajaran praktis dari sini. Sistem yang dirancang dengan redundansi dan efisiensi energi bisa bertahan puluhan tahun. NASA memang pakai teknologi jadul, tika desainnya robust dan maintenance-nya proactive.
Buat kamu yang kerja di tech atau engineering, ini reminder kalau durability kadang lebih penting dari fitur canggih. Voyager 1 bukti bahwa planning jangka panjang dan konservasi resource itu berhasil.
Jadi, meski CRS sudah mati, Voyager 1 masih punya instrumen lain yang aktif. Data dari plasma wave subsystem dan magnetometer masih terus dikirim ke Bumi. Setiap bit informasi berharga karena kita nggak tahu kapan komunikasi akan terputus total.
AI Updates lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
Hacker News Front Page
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
AI Updates update dari Hacker News Front Page.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Hacker News Front Page.
Baca artikel asli di Hacker News Front Page→

![SPEAKE(a)R: Turn Speakers to Microphones for Fun and Profit [pdf] (2017)](https://cdn.sanity.io/images/dc330kkz/production/205d03850ca4c36c5fa7ff5a7255c6d923456e55-1024x576.jpg?w=1400&h=788&fit=crop&auto=format&q=82)
