Kampala adalah MITM proxy untuk reverse-engineer aplikasi web, mobile, dan desktop jadi API secara otomatis. Lebih cepat dan stabil dari browser automation.

Pernah ngerasa capek harus bolak-balik dashboard legacy cuma buat ngambil data? Atau nyobain automation tapi malah sering error gara-gara browser automation yang rapuh?

Nah, Alex dan Tarun dari YC W26 bawa solusi namanya Kampala. Ini tuh MITM (man-in-the-middle) proxy yang kerjanya beda dari tools automation pada umumnya.

Kampala nggak pake browser automation atau computer use agents yang lambat dan unpredictable. Dia kerja di layer request yang sebenarnya dipahami komputer.

Advertisement

Jadi kamu bisa reverse-engineer workflow apa aja—website, mobile app, sampai desktop app—terus jadiin API dalam hitungan detik.

Alex sendiri punya background reverse engineering web selama 7-8 tahun. Dia pernah bangun integrasi manual buat sneaker releases, sportsbooks, dan macem-macem.

Waktu itu dia konsul ke beberapa perusahaan dan mindahin mereka dari infrastructure berbasis browser ke requests layer. Pengalaman ini yang jadi fondasi Kampala.

Awalnya mereka bangun tool ini buat Zatanna, startup dental tech mereka. Soalnya harus integrate dengan banyak insurance payer dashboards dan legacy dental software.

Superpower mereka sebagai voice agent company justru di kemampuan integrate dengan hampir semua sistem. Makanya mereka invest heavy di tooling yang sekarang jadi Kampala.

MITM proxy yang ada di pasaran ternyata nggak cukup. Pertama, mereka manipulate TLS dan HTTP2 fingerprint yang ketahuan anti-bot systems.

Kedua, MCP-nya jelek dan nggak expose fitur penting kayak scripts atau replay. Ketiga, nggak bisa build workflows dari sample requests.

Seiring tool mereka makin powerful, mereka pake sendiri buat scrape conference attendees, connect ke PMS external, bahkan interact dengan Slack apps.

Alex sampe kirim ke ibunya yang property manager. Dengan bantuan dia (lumayan banyak sih haha), ibunya automate 2-3 jam data entry billing di Yardi.

Di situ mereka sadar ini bukan cuma soal dentistry. Tool ini bisa dipake siapa aja yang stuck dengan legacy systems.

Cara kerja Kampala simpel. Dia leverage existing session tokens dan anti-bot cookies yang udah ada. Hasilnya? Automation yang deterministic dan cepat.

Kamu bisa pake agent harness mereka yang bikin scripts/APIs dengan nanya kamu mau action apa. Atau pake MCP dengan manually jalani workflow sekali, terus suruh coding agent kamu replicate pake Kampala.

Setelah punya API/script, bisa export, run sendiri, atau minta mereka hostin. Fleksibel banget.

Menurut mereka, masa depan automation bukan kirim screenshot webpage ke LLM. Tapi pake layer yang komputer beneran pahami: requests dan responses.

Practical takeaway-nya: Kalau kamu developer atau founder yang sering integrate dengan sistem legacy, coba pertimbangin approach MITM kayak gini.

Browser automation memang gampang dipahami, tapi brittle dan mahal di maintenance. Requests layer lebih stabil, lebih cepat, dan lebih scalable.

Yang penting diingat: tool kayak gini butuh responsible use. Pastikan kamu punya authorization buat access data yang di-automate.

So, ada yang udah coba approach serupa? Atau punya pertanyaan soal implementasi MITM proxy? Drop thoughts kamu di bawah.

AI Updates lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

Hacker News Front Page

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

AI Updates update dari Hacker News Front Page.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Hacker News Front Page.

Baca artikel asli di Hacker News Front Page
#AIUpdates#HackerNewsFrontPage#rss